Bangku Panjang di Seberang Jalan

Posting Komentar

Malam ini, di penghujung Januari, jalanan kota seribu mimpi begitu sepi. Mobil dan motor yang biasanya banyak berjajar di bahu jalan karena ditinggal pengendaranya mengabadikan jejak di bawah temaram pijar lampu, kali ini tak terlihat. Deretan pedagang nasi pecel, gerobak-gerobak angkringan kopi lengkap dengan tikar-tikar lesehan di sisi seberang jalan, pun demikian. Hanya desisan angin yang mampu Rinda tangkap dari balkon lantai dua rumahnya. Sunyi.

Malam itu, tepat di pukul 19.31 seperti malam ini, Rinda kehilangan sosok yang duduk di bangku panjang seberang jalan.

"Gadis cantik, coba tengok kursi di seberang jalan dong."

Rinda kembali teringat sebuah pesan yang diterimanya malam itu. Bagaimana dirinya perlahan mengarahkan pandangan pada kursi kayu panjang yang berada tepat di depan balkon tempatnya duduk.


Samar terlihat bayang seseorang di sana. Lelaki berkaos putih dengan lapisan kemeja kotak-kotak dan sebuah flat cap di kepala. Wajahnya menunduk memandang benda berpijar di tangan. Tak berapa lama, seakan sadar sedang diawasi, sosok itu pun mengangkat kepala lalu menatap ke arah balkon. Sejurus kemudian berdiri. Sebuah senyum tergambar di sana. Mengangguk. Namun, tidak dengan Rinda, ia hanya bergeming. Kembali menunduk melihat gawai yang berada di sisinya bergetar.

"Terima kasih, gadis cantik."

Rinda tak berkedip menatap layar gawai hingga sebuah pesan kembali muncul.

"Sampai jumpa lagi, gadis cantik."

Spontan Rinda berpaling. Lelaki itu sudah tidak ada di bangku panjang seberang jalan.


Kilat tiba-tiba menyambar. Rinda tersentak, memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua telapak tangan. Gelegar petir menyentak. Gadis di tepi balkon itu menggeleng berulang kali hingga bahunya tergugu, terisak. Bayang lelaki yang senantiasa menyapanya ketika duduk di balkon kembali berkelebat. Menari-nari di benak Rinda dengan senyum mengembang.


Malam itu, tepat di pukul 19.31 seperti malam ini, Rinda kehilangan sosok yang duduk di bangku panjang seberang jalan. Lelaki yang mengirimkan pesan padanya. Lelaki yang selalu ada di waktu dan tempat yang sama. Bangku panjang di seberang jalan pada pukul 19.31 dengan sebuah pesan terakhir,

"Gadis cantik, baik-baik ya. Kita pasti berjumpa di sana."


Kenangan di kota kecil seribu mimpi,

Restanti

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar