Ijinkan jadi Guru (lagi)

10 komentar

"Lho, kok saya Bu? Yang lainnya saja," protes Naufal setelah ditunjuk membacakan cerita tentang kegiatan liburan sekolah. Bibir cemberut, dua alis bertaut serta pandangan kesal.
"Gak apa-apa Naufal, baca saja ya. Pasti liburanmu seru."
"Gak mau. Yang lain saja!" suaranya setengah berteriak tapi juga mengiba.

Suasana kelas 5 yang semula tenang berangsur ramai. Beberapa anak berbisik mengejek teman lelakinya ini yang terkenal banyak ngomong tapi bernyali kecil. Entah siapa yang memulai, tetiba satu kelas mulai menyoraki sambil menghentak meja.

"Naufal ... Naufal ... Nau ... " gaduh sorak anak-anak yang lain. Tapi terhenti saat terdengar isak tangis Naufal.
"Huhuhu ... aku gak mau, huhuhu ... " bahu Naufal naik turun karena terisak.
"Ya sudah karena semua nanti harus membacakan cerita di depan kelas, Naufal paling akhir saja ya?" tanyaku tegas. Naufal hanya mengangguk.

Ah, jadi kangen suasana seperti itu. Mengajar di depan kelas. Melihat antusiasme anak-anak saat ada bab baru, lalu berlomba mengacung untuk bertanya. Berlari ke meja guru setelah selesai mengerjakan tugas. Terutama sangat rindu mendengar cerita mereka di sela-sela jam istirahat. Polos.

Hampir tiga tahun menghabiskan waktu menjadi full ibu rumah tangga. Mengurus rumah, melayani suami, serta mengasuh dua buah hati yang dalam masa perkembangan. Memulai hari sebelum kumandang adzan Subuh dan meregangkan otot ketika malam mulai larut.

Di tengah aktivitas domestik ini kadang ada gejolak jiwa, panggilan hati untuk kembali berkecimpung di dunia pendidikan. Kembali berbagi ilmu. Memegang spidol dan menulis di whiteboard. Bercengkerama mendampingi kegiatan siswa dari pagi hingga selesai ashar.

Ah, lantas bagaimana dengan si bungsu? Tak tega rasanya meninggalkan dalam waktu lama apalagi dia sedang menggemaskan saat ini. Kembali ingat ekspresi bahagia si sulung saat pulang sekolah ada ibunya menyambut kala awal resign dulu.

Tapi tunggu dulu, bukankah berbagi ilmu tidak harus di depan kelas? Bisa di mana dan kapan saja?

Ehm, benar juga. Tapi bagaimana ya caranya? Tetap bisa berbagi ilmu tanpa meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga. Pasti bisa.

Berawal dari keinginan ini, tiga hari yang lalu mulai berpikir mencari cara berbagi ilmu laiknya seorang guru tanpa keluar rumah. Akhirnya terbersit ide membuat video pembelajaran untuk disebar melalui media sosial.

Berbekal gawai pintar, kertas, serta sebuah spidol maka mulai eksekusi. Membuat video pembelajaran matematika.

Hasilnya? Jangan ditanya, amatiran.  Berkat konsultasi ke teman yang berkecimpung di dunia fotografi dan desain akhirnya lahir akun instagram.com/@emakguru yang rencana ke depannya diisi tips #matematika1menit guna membantu para emak dalam mendampingi genduk tole (putra-putri) belajar terutama berhitung.

Melalui cara ini berharap akan menebar manfaat sesuai cita-cita masa kecil dan semoga diijinkan menjadi seorang guru (lagi) via instagram.com/@emakguru

Nganjuk,
12/04/2019 21.20

Restanti @emakguru
Ditulis untuk mengikuti lomba menulis Koplinger's perempuan

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

10 komentar

  1. Semoga terkabul harapan mbak Restanti untuk jadi guru tanpa harus keluar rumah ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terima kasih supportnya mbak Nova

      Hapus
  2. Saya juga kangen, dididik sama guru sesabar ibu ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu juga kangen genduk ayu, santun nan cerdas satu ini. Terus semangat ya

      Hapus
  3. Sepertinya ada Mbk aplikasi/program semacam ruang guru gitu jadi kita bisa masuk sebagai guru, dikota besar sudah ada, tpi aq lupa nama e 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada. Tapi masih belum bisa gabung. Sebagai alternatif bikin sendiri ini 😁

      Hapus

Posting Komentar