Umi Ingin Libur, Nak!

1 komentar

Bergelut dengan seabrek tumpukan kertas, buku-buku, nilai harian, dan memeluk erat notebook ternyata masih bisa kuatasi kala itu. Rasa lelah dan penat seakan hilang ketika anak didikku bisa memahami dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh.

Berbeda dengan hari ini, pekerjaan yang sudah mengantri membuat rasa malasku kian menjadi. Dering alarm tak mampu lagi membawa mata ini terjaga. Bangun, merangsek menekan tombol off kemudian terpejam lagi. Suami dan anakku geli melihat pemandangan tak biasa kali ini. Sosok yang biasanya selalu melenggangkan jemarinya di telapak kaki dan leher untuk membangunkan, malah masih asyik merangkai mimpi.

"Mi, sudah jam empat. Ayok bangun!  Sholat!" Bisik suami. Bukannya membuka mata, diri ini semakin erat memeluk guling. Lelap.

"Ada semut... Jalan-jalan di pipinya Umi... Di pipinya Umi. Lalala... Lalala... " lagu yang biasa kugunakan sewaktu membangunkan anak, kini terdengar di telingaku. Juga jemari mungil itu. Sambil tertawa-tawa.

"Umi ingin libur, Nak," pintaku.

Entahlah, setelah hampir dua tahun memutuskan menjadi full ibu rumah tangga rasanya tiada waktu untuk bermalas-malasan. Ada saja yang kukerjakan. Mulai dari bangun tidur hingga mata terpejam kembali. Seperti tidak ada habisnya. Ya, meski kadang sekedar melepas jenuh dengan membaca buku 😁 tapi itu pekerjaan juga, bukan?

Dulu ketika masih berangkat pagi pulang menjelang petang, kami selalu menikmati akhir pekan dengan jalan-jalan walaupun di alun-alun kota. Kebersamaan yang hanya bisa terlaksana selepas Dhuhur setiap Sabtu sampai malam Minggu. Nah, kenapa justru di saat kini banyak kesempatan bersama aku ingin sendiri? Me time istilah kerennya. Melepas semua aktivitas rutin seharian atau paling tidak beberapa jam saja.

Apa ini ya sifat manusia? Selalu tidak puas dengan keadaannya. Tidak atau kurang bersyukur? Selalu merasa kurang. Ah... bukan manusia ding, diriku tepatnya. Masih jauh rasa syukur yang kupanjatkan. Bukankah semua tergantung pada hati dan pikiranku.

Jika saja aku niatkan semua aktivitas untuk ibadah, tentu akan terasa menyenangkan. Bukan lagi menjadi sebuah kewajiban apalagi beban.

Sontak, kuangkat kepala dan tubuh ini dari empuknya kasur. Semangat lillah kutancapkan dalam benak dan kalbu. InshaAllah hari-hariku selanjutnya adalah liburan penuh senyuman.

"Umi tak jadi libur, Nak. Ayok kita jamaah Subuh!"

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

1 komentar

  1. Kerjaan seperti ga ada habisnya ya dek. Tetap semangat....saling menyemangatii^^....

    BalasHapus

Posting Komentar