Mahkota Matahari

Posting Komentar

"Lembur ya, Bi! Biar cepat selesai," ajakku pada suami tercinta. Pesanan mahkota untuk acara wisuda santri hafidz-hafidzah di awal April nanti memang harus segera kami selesaikan. Bukan karena apa, mengingat semuanya dikerjakan secara manual jadi ya harus jauh-jauh hari dipersiapkan. Memang tak banyak, hanya 65 mahkota.

Sebenarnya, ini bukan keahlian kami tapi karena dimintai tolong oleh pemilik pondok tahfidz Al quran secara langsung rasanya tak elok jika ditolak. Secara anak kami pun kami titipkan di pondok ini.

Tak lazim memang dalam sebuah acara wisuda memakai atribut mahkota. Toga atau setidaknya selempang yang sering digunakan dalam prosesi ini. Ternyata satu hal yang baru kami ketahui, mahkota ini tidak dipakai oleh wisudawan melainkan disematkan kepada orang tua mereka. Sebagai pemaknaan dan simbol dari sebuah hadist yang diriwayatkan Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu… ” kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya, dan kedua orang tuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Quran.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 6/51, dan dishahihkan al-Albani).

Masha Allah, betapa mulia kedudukan penghafal Al quran ini. Selain untuk dirinya juga ditujukan untuk orang tuanya. Tak terasa melelehlah air mata kami, semoga anak dan keturunan kami dimampukan melakukan itu semua. Demikian juga, semakin banyak anak-anak muslim yang berkemauan untuk menjadi seorang hafidz Al quran. Aamiin

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar