Kreativitas tak Terbatas

Posting Komentar

"Mi, ciiisss ...!" seru Hanin sambil mengarahkan kotak kamera buatannya.
"Eh ...! Ciiisss," aku pun berpose bak foto model kelas papan triplek 😂
"Klik ... klik ...!" anak perempuanku serius mengambil gambar, meski hanya akting.
"Wah, bagus. Punya siapa ini, Mbak?"
"Punyaku dong, Mi. Aku yang buat." mengerjip-ngerjipkan matanya yang berbinar penuh ceria.
"Oh, ya? Masha Allah, bagus. Siapa yang ngajari?" selidikku.
"Dari sini, Mi. Ini!" bergegas membuka halaman sebuah buku yang entah kapan membelinya. Sepertinya sudah masuk daftar buku yang tak terpajang di raknya.
"Kemarin, Mbak Hanin buka-buka loker buku. Eh ... lihat buku ini, terus aku buat kamera ini, Mi."
Tanpa pikir panjang, dua jempol kuacungkan untuknya.

Itulah secuil percakapanku dengan Hanin,  anak perempuanku yang kini duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Ada saja yang dikerjakannya sepulang sekolah. Bukannya merasa capek setelah hampir 6,5 jam belajar bersama teman-temannya di kelas, ia masih saja asyik bermain sambil belajar di rumah.

Aku saja yang hanya beberes rumah dan menyiapkan makanan, jam-jam segitu sudah selonjoran meluruskan kaki dan pinggang. Ia? Sepertinya tenaga anak-anak memang luar biasa, seakan tak ada capeknya.

Nah, bagaimana cara terbaik mengelola tenaga super ini agar terarah ke hal-hal positif? Itulah tugas kita sebagai orang tua.

Banyak cara yang ditempuh orang tua untuk mengatasi jatah tenaga super ini. Tren sekarang adalah mengikutkan anak ke berbagai les baik bidang akademik maupun non akademik. Les matematika, les bahasa Inggris, kursus musik, karate, dan banyak yang lain.

Satu hal yang menjadi catatan ketika kita sebagai orang tua mengambil keputusan ini, yaitu jangan sampai kegiatan-kegiatan tambahan membebani anak. Membuatnya semakin payah dalam berpikir, otaknya dipaksa terus bekerja. Bukankah tujuan awalnya adalah memberikan alternatif kegiatan yang positif guna menyalurkan tenaga mereka yang seakan tak pernah habis?

Tentu hal ini tak bisa dipatok, apakah kegiatan A akan membebani atau justru kegiatan B yang menambah pikiran anak semakin penat. Setiap anak mempunyai karakter dan kemampuan yang berbeda-beda.

Lantas bagaimana agar kegiatan tambahan ini sesuai karakter anak?

Tentu kita sebagai orang tua lebih tahu kebutuhan anak-anak kita, tanpa lupa meminta pendapat darinya serta tambahan informasi dari guru di kelas. Ambil jenis kegiatan berdasar ketiga masukan ini. Niscaya, kegiatan yang diambil akan bermanfaat bagi anak, menentramkan hati orang tua, dan juga bersinergi dengan kegiatannya di sekolah.

Semoga kita dimampukan untuk menjadi orang tua bijak dalam pengasuhan titipan  Allah.
Aamiin

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar