Buku Pembentuk Karakter

Posting Komentar

"Mi, cerita lagi ya?" pinta anak perempuanku selepas sholat Isya'. Sederet buku di rak yang berjajar rapi, buku karangan Pipiet Senja, lagi-lagi yang diambilnya. 'Si Jago Renang' judulnya.

Buku ini terbeli ketika ia masih duduk di bangku PAUD, usianya sekitar 4 tahunan dan belum bisa membaca. Dia sendiri yang memilih judul ini. Entah apa yang membuatnya tertarik, judul atau gambarnya. Yang jelas, setelah dipegang tak mau diganti meski disodorkan buku yang sesuai usianya.

Sejak saat itu, buku seri kisah nabi yang telah dipunya tergantikan posisinya. Setiap malam tak bosan-bosannya ia minta dibacakan cerita tentang sosok Ivan si anak tanpa kedua tangan, seorang anak piatu dengan semangat luar biasa ingin membanggakan sang ayah meski dalam keterbatasan.

Berkat kegigihan dan semangat itulah akhirnya Ivan bisa mempersembahkan piala dan kebanggaan untuk ayah serta omanya.

Buku ini simple, baik dari segi bahasa maupun gambarnya. Namun ternyata membawa pengaruh luar biasa bagi pembacanya. Anak perempuanku menjadi bersemangat ketika mengerjakan suatu hal, seakan sosok Ivan menjadi teladannya.

"Ivan saja bisa, aku juga pasti bisa!" serunya waktu berlatih renang. Padahal sebelum ini, ia tergolong anak yang takut air. Semacam trauma karena pernah hampir tenggelam saat bermain air di sebuah waterboom.

Banyak manfaat dari membiasakan anak membaca atau kita membacakan sebuah buku. Mungkin berat awalnya, tapi yakinlah sedikit banyak akan berpengaruh. Tentu, pilihkan buku atau cerita yang sesuai dengan usia anak.

Berikut beberapa tips agar buku yang dibaca anak atau kita bacakan dapat membentuk karakter :
1. Pilih tampilan buku sesuai usia anak. Usia di bawah 5 tahun lebih baik buku cerita bergambar, semakin bertambah usia maka proporsi tulisan lebih banyak daripada gambar.
2. Isi dan cerita memang disusun untuk usianya. Biasanya seri fabel (tokoh hewan) akan cepat menancap dalam benak anak.
3. Sebelum dibaca anak, pastikan kita sudah membaca terlebih dahulu. Hal ini menghindari jika ada konten yang tidak layak untuk anak.
4. Dampingi mereka membaca atau setidaknya tanyakan isi buku yang telah dibacanya dengan tujuan agar kita bisa menyampaikan makna/nasehat dalam buku tersebut.

Yuk, bentuk karakter anak melalui membaca atau bercerita!

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar