Perempuan Wajib Bisa Masak?

Posting Komentar

Apakah jawaban Anda?

Tentu hanya ada dua jawaban : iya dan tidak. Sebelum jauh membahas tentang suatu kewajibankah perempuan bisa memasak, kita lihat ketika masa Rosululloh dulu. Fatimah binti Muhammad, anak Nabi Muhammad SAW memang selalu mengerjakan sendiri segala hal pekerjaan rumah tangga termasuk membuat roti pada saat itu.

Hal ini berbeda dengan Asma' binti Abu Bakar. Karena sang suami tidak mampu menyediakan seorang pembantu, maka sang ayah, Abu Bakarlah yang menyediakan pembantu untuk menangani tugas suami dari putrinya ini.

Pendapat dari empat mazhab terkemuka bahwa mereka sepakat berkhidmat (memasak) bukanlah kewajiban seorang istri kepada suaminya.

Mazhab Al Hanafi dalam kitab Al-Badani menyebutkan "seandainya suami pulang bawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, lalu istrinya enggan untuk memasak dan mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap."

Mazhab Maliki dalam kitab Asy-Syarhul Kabir oleh Ad-Dardir disebutkan "Wajib atas suami berkhidmat (melayani) istrinya. Meski suami memiliki keluasan rejeki dan istrinya punya kemampuan berkhidmat, namun tetap kewajiban suami yang berkhidmat. Sehingga suami wajib menyediakan pembantu buat istrinya."

Mazhab As-Syafi'i dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muahadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi disebutkan tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual.

Mazhab Hanabilah berpendapat semua istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, ini merupakan nash Imam Ahmad rahimahullah. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual.

Lantas, wajibkah seorang perempuan bisa memasak?

Jawabannya tentu tergantung dari masing-masing individu tiap perempuan. Bisa 'iya'  bisa juga 'tidak'. Suatu pilihan. Setiap pilihan pastilah ada konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti.

Kita sebagai orang timur, lebih sering melihat bahwa seorang perempuan hendaknya bisa memasak. Setidaknya nanti ketika sudah menikah, menjadi istri dan ibu dari anak-anak, ketrampilan memasak ini sangat bermanfaat.

Dari segi kesehatan, misalnya. Memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dan suami. Walaupun hal ini bukan suatu keharusan tetapi alangkah lebih menyenangkan jika seorang perempuan berkuasa penuh atas makanan apa yang dibutuhkan dan boleh dimakan oleh anggota keluarganya. Zona kuliner keluarga menjadi wilayah teritorialnya.

Dari sisi agama, kalaupun bukan suatu kewajiban tentu ini akan menjadi ladang amal yang luar biasa. Sedekah yang bermanfaat sekaligus bisa meringankan kewajiban suami.

Apapun pilihan seorang perempuan, bisa atau tidak bisa memasak tentu ia sudah menimbang kelebihan dan kekurangannya. Mari kita hargai keputusan yang diambil, selama hal ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan tata norma bermasyarakat.

#25/30DWCJILID6

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar