Penerapan Zona, Gak Adil! (PPDB Provinsi Jawa Timur)

2 komentar

Begitu, kalimat yang terucap dari beberapa wali murid SD ketika anaknya akan mendaftar ke jenjang SMP. Ada pula yang menyampaikan "kok dipersulit ya? Mau masuk sekolah yang bagus," sambi menarik nafas panjang karena putus asa.

Apa yang sebenarnya menjadi alasan wali murid ini mengeluh? Menyesalkan sistem yang ada? Merasa mengalami ketidak adilan?

Selidik punya selidik, ternyata ini berkaitan dengan PPDB saat ini. Penerimaan Peserta Didik Baru tahun pelajaran 2017-2018. Terutama jenjang SMP dan SMA. Untuk SMK dan sekolah swasta tidak ada kendala yang berarti.
Untuk jenjang SMPN dan SMAN sekarang ini, memang menerapkan sistem PPDB online dengan penerapan zona.

Bagaimana sistem ini? Sebenarnya hampir sama dengan pendaftaran sebelumnya, hanya saja saat ini tidak diperlukan antri panjang di sekolah yang dituju. Cukup melalui online.

Sistem online ini mengharuskan calon peserta didik baru untuk mendaftar via jejaring internet ke laman http://ppdb.dindik.jatimprov.go.id atau http://ppdbjatim.net baik secara mandiri maupun oleh sekolah penyelenggara. Yang digaris bawahi dalam sistem ini adalah, penerapan zona wilayah.

Zona wilayah disini maksudnya adalah seorang calon peserta didik baru ditetapkan sekolah mana yang harus dia pilih dari 2 jatah sekolah yang bisa dia pilih. Zona di sini berdasar data tempat tinggal yang tercantum di Kartu Keluarga. Sebagai contoh di kabupaten Nganjuk,  SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 Nganjuk zonanya meliputi kecamatan Nganjuk, kecamatan Bagor, dan kecamatan Wilangan artinya setiap calon peserta didik baru dari ketiga kecamatan ini wajib memilih salah satu atau dua dari SMAN yang termasuk zonanya.

Setiap calon peserta didik baru bisa menerapkan 3 pilihan sebagai berikut :
1. Pilihan pertama sekolah dalam zona, pilihan kedua sekolah dalam zona
2. Pilihan pertama sekolah dalam zona, pilihan kedua sekolah luar zona
3. Pilihan pertama sekolah luar zona, pilihan kedua sekolah dalam zona

Nah,  ketentuan ini yang masih banyak wali murid yang belum mengerti. Banyak yang menangkap bahwa tidak boleh memilih sekolah di luar zona. Sehingga tercetuslah "Penerapan zona, tidak adil!" terutama di zona-zona yang belum terdapat sekolah unggulan versi mereka.

Maka sosialisasi sistem baru ini memang perlu terus dilakukan, baik oleh pemerintah, sekolah asal, sekolah yang dituju, maupun sesama wali murid. Agar tidak terjadi kesalahpahaman sehingga merugikan banyak pihak.

Dan satu hal lagi yang terpenting, pilihan sekolah ini harus diperhatikan betul-betul karena pendaftaran hanya satu kali, tidak boleh diganti maupun dicabut.

Mari menjadi orang tua yang bijak dengan menaati kebijakan yang ada, melihat dari sisi positifnya.

#22/30DWCJILID6

Restanti
Hi perkenalkan saya Mak Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga emakblogger. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

2 komentar

  1. Sisi positifnya sih banyak agar ortu melek kalau sekolah2 yg lain itu juga sama bagusnya. Di luar negeri juga ada sekolah favorit tapi enggak ngotak2in kaya di negara sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mbak Avanti. Pemerataan potensi anak, guru, sapras semoga semakin baik lagi kedepannya. Sehingga semua sekolah maju bersama

      Hapus

Posting Komentar