Pendidikan Agama Dihapus?

Posting Komentar

"Apa maksudnya pemerintah meniadakan pendidikan agama di sekolah?"
"Ada pendidikan agama saja moral anak muda sekarang amburadul, apalagi dihapus? Tambah parah, iya!"

Demikian beberapa komentar saat perdebatan tentang beredarnya isu bahwa pendidikan agama akan ditiadakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Merujuk Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter dan religiositas atau keagamaan, memang hal ini bisa terjadi. Namun perlu digaris bawahi kata 'dapat', artinya tidak mengikat.

Dalam pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 tentang hari sekolah yang penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakuriler. Ini pun tidak semua sekolah wajib melaksanakan. Jika sekolah siap dan akan dilakukan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2018-2019 yang akan datang.

Wacana ini muncul, ketika berhembus kabar penerapan sekolah 8 jam 5 hari dalam sepekan. Full day school. Jika dihitung mulai pembelajaran pujul 07.00 maka sekolah akan berakhir pukul 15.00. Hal ini yang menjafi perdebatan beberapa pihak termasuk oleh guru sendiri.

Dari sekolah, merasa belum siap jika pembelajaran berakhir sampai pukul 15.00. Bagaimana makan siang anak serta jam kerja gurunya? Ini menjafi pertanyaan awal, kemudian fasilitas. Tidak semua sekolah mempunyai ruang makan, mushola, dan juru masak atau kantin.

Hal inilah yang kemudian dijelaskan oleh Menteri Muhadjir, bahwa pembelajaran tidak harus dilakukan di kelas. Murid bisa belajar di kelas sampai pukul 12.00, selebihnya diajak belajar melalui lembaga-lembaga yang bergerak di pendidikan karakter. Madin, TPA, ceramah keagamaan, retreat, katekisasi, atau kajian kitab agama-agama.

Guru yang mengajar tidak harus guru sekolahnya, bisa meminta bantuan guru-guru di madrasah atau yang berkompetensi sesuai. Namun disini, guru tetap mempunyai tugas mengawasi,  mendampingi dan menilai proses pembelajaran di luar sekolah. Disinilah kerjasama yang dimaksud.

Jika kerjasama ini dapat berlangsung dengan baik, maka waktu 3 jam yang dimulai pukul 12.00 -  15.00 sudah cukup mewakili dan bahkan lebih banyak dari wakgu pembelajaran pendidikan agama pada sistem sebelumnya yang hanya diberi waktu 3-4 jam pelajaran. Dengan asumsi seperti ini, maka sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi pendidikan agama saat pembelajaran di kelas.

Inilah, bagian yang terekspos media sosial namun tanpa dikaji secara menyeluruh. Jadi, bukan pendidikan agama dihapus. Justru dengan bekerja sama dengan lembaga lain, waktu yang diberikan untuk pendidikan agama serta karakter semakin banyak.

Apa pun keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentu sudah melalui kajian dan evaluasi-evaluasi yang panjang dan penuh ketelitian, mari kita dukung program pemerintah demi terciptanya pendidikan karakter bangsa yang kuat dan bermartabat.

Jika pun ada ketidaksesuaian dengan realita fan nurani, mari disampaikan dengan cara-cara yang arif dan bijaksana.

#30/30DWCJILID6

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar