Pawai Alegoris

Posting Komentar

Tahun 2017 ini, kota Nganjuk berulang tahun ke-1080 pada tanggal 10 April. Kota yang berbatasan dengan Jombang di bagian timur, selatan dengan Kediri, di bagian barat berbatasan dengan Madiun,  serta Bojonegoro di sebelah utara ini ternyata sudah tua. 1080 tahun usianya.

Banyak kegiatan yang diadakan pemerintah daerah untuk mengisinya. Kegiatan wajib yang pasti ada adalah Pawai Alegoris. Sebuah tradisi yang dilakukan setiap tahunnya, berupa pawai dokar yang dihias dengan berbagai aksesoris yang ditunggangi mulai bupati sampai kepala instansi serta camat seluruh kabupaten Nganjuk.

Kali ini diikuti oleh 45 dokar, 20 becak, 50 sepeda onthel, serta disemarakkan oleh 35 unit Isuzu Panther dari komunitas Panther Wikis Anjuk Ladang (Phatwal) yang dipimpin oleh Ir. Agoes Soebagijo Plt Sekda Kabupaten Nganjuk. Turut pula kirab pusaka Kabupaten Nganjuk yaitu Kyai Jurang Penatas dan Kyai Jujung Nogo. Pusaka yang dikeramatkan, keluar dari museum hanya setahun sekali.

Makna Pawai Alegoris adalah mikul duwur mendem jeru para leluhur. Mengenang dan menghormati para sesepuh pendiri Nganjuk. Pawai menggambarkan proses boyongan Kabupaten Berbek menjadi Kabupaten Nganjuk.

Peristiwa ini terjadi di awal permulaan tahun 1880, saat itu yang menjabat bupati Berbek terakhir adalah KRMT. Sostrokusumo III (1878-1901) sekaligus menjadi bupati pertama Kabupaten Nganjuk. Sebelumnya Kabupaten Nganjuk merupakan wilayah distrik (pembantu bupati) dari Kabupaten Berbek yang merupakan wilayah Karisidenan Kediri pada tahun 1975.

Sebab awal boyongan ini adalah pembangunan jalur kereta api Surabaya - Solo yang melintasi Kabupaten Nganjuk. Sehingga Nganjuk lebih dipilih oleh kolonial Belanda sebagai ibu kota baru daripada Berbek yang terletak di kaki gunung Wilis. Hal karena mereka menganggap pertumbuhan di daerah Berbek berjalan lambat, jauh dari jangkauan.

Maka terjadilah proses boyongan ini. Jarak Berbek - Nganjuk sekitar 10 km, seluruh pemerintah Kabupaten yang dipimpin bupati Berbek pindah ke Kabupaten Nganjuk beserta seluruh jajarannya. Sejak saat itulah dikukuhkan sebagai hari jadi kota Nganjuk tercinta ini.

Pawai Alegoris sampai saat ini tetap dilaksanakan sebagai wujud nguri-nguri budaya serta ajang mengenalkan sejarah kepada kawula muda penerus bangsa agar tidak melupakan sejarah. Dengan harapan akan semakin cinta dengan kota kelahirannya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Mari kita turut ambil bagian dengan terus melestarikan budaya dan tradisi masing-masing daerah, agar Indonesia tercinta tetap menjadi bangsa yang besar.

#29/30DWCJILID6

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar