Kebahagiaan Seorang Ibu

Posting Komentar

Tak pernah terlintas di benak seorang ibu untuk meminta balas budi dari anak-anaknya. Apa pun yang dilakukannya tak lain tak bukan hanya untuk kebahagiaan mereka. Anak yang dikandung selama 9 bulan lamanya. Ia rela berkorban demi mereka, sekalipun nyawa menjadi taruhannya.

Malam-malamnya berganti siang, namun siangnya tak terganti, tetap terjaga demi keceriaan wajahmu, duhai anak ibu. Wajah cantiknya, jemari eloknya, ramping badannya tak lagi penting saat kau ada. Semua ia lakukan. Ibu.

Lantas, masih adakah lagi yang kurang darinya? Pengorbanannya? Masihkah dia harus memikul beban saat kau dewasa? Atau menua bersamanya?

Sungguh tidak, pundaknya takkan pernah lelah untukmu. Tapi adakah hatimu tentangnya?

Bukan, bukan dia yang harus ada. Tapi kau wahai anak ibu. Kaulah yang harus ada saat senja usianya. Tanpa ia pinta, balaslah jasanya. Meski kau tahu, tak akan pernah bisa walau seujung kuku. Balaslah.

Pernahkah kau tanya kabarnya?  Ataukah dia yang menyapa? Mengelus putra tercintanya?

Datang, sapalah jiwanya. Itu cukup, lebih bahkan. Sekedar "Ibu sudah makan?"  cukup. Ia tak mengharap makananmu, ia hanya ingin suaramu. Sejuk sorot matamu, lembut suaramu. Itu saja.

Beratkah? Teramat ringan, walau tak semua anak ibu bisa melakukannya. Berat sekedar bertanya, apalagi bersama.

Kebahagiaan seorang ibu, hanya melihat anaknya tersenyum berdiri kokoh di kakinya sendiri.

Cukup itu. Tak lebih

#19/30DWCJILID6

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar