Anak Menangis Saat Masuk Sekolah?

Posting Komentar

"Tidak apa-apa Umi, ditinggal saja," ujar bunda, guru Hanin di Taman Penitipan Anak. Meski ada was-was tapi tidak ada pilihan lain. Harus berangkat mengajar juga di sekolah lain. Dilema seorang ibu yang mempunyai anak, sementara dia juga harus bekerja di luar rumah selama 8 jam mulai pukul 06.50.

Hanin menangis sejak turun dari motor. Berjalan menuju bundanya dalam keadaan berlinang air mata. Terus seperti itu, selama sebulan lamanya.

Dari rumah semangat sekolah, bangun pagi, mandi, sarapan, fan berangkat penuh ceria. Namun keadaan berubah 180 derajat saat tiba di depan pintu gerbang sekolah. Ia menangis, tapi tetap turun dari motor dan menyalami bunda-bundanya. Dan terus mengis sampai waktu pulang, sekitar pukul 13.00. Luar biasa!

Lantas, apa yang harus dilakukan orang tua saat anak seperti ini?

Menurut pengalaman, anak seperti ini justru nantinya akan mampu menyesuaikan diri dan tangguh di kemudian hari. Maka apa yang sebaiknya dilakukan?

Jaga moodnya ketika bangun tidur sampai dia siap pergi sekolah. Ini penting, setidaknya ia tetap mempunyai semangat pergi ke sekolah. Ketika anak mulai menangis,  jangan panik atau memarahinya. Tetaplah bersikap tenang, cukup temui gurunya dan sampaikan keadaan anak kita. Minta bantuannya untuk memberi pengertian kepada anak.

Jangan terbiasa menjanjikan sesuatu jika ia tidak menangis. Biasanya kita sering bilang seperti ini "Kalau afik sekolah tidak nangis, nanti dibelikan mainan di toko,"  Jangan pernah!  Ingat, anak adalah peniru yang ulung. Memorinya juga masih luar biasa bagusnya. Mengapa? Jika kita terbiasa seperti ini,  bukan tidak mungkin suatu saat anak akan menggunakan 'trik'  ini untuk mendapatkan sesuatu.

Terus motivasi dengan hal-hal yang positif, misalnya melihat kakak-kakak yang sekolah di tingkat lebih tinggi. Melalui sebuah cerita akan lebih mudah dipahami oleh anak. Masukkan ajaran - ajaran disiplin, tanggung jawab dan keberanian dalam cerita. Tentu perlahan tapi pasti, anak akan terbawa untuk mengidolakan tokoh dalam cerita.

Usaha terakhir yang bisa dilakukan adalah istigfar dan terus berdoa demi yang terbaik untuk anak kita.

#17/30DWCJILID6

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar