Terpaksa ditanggalkan

Posting Komentar

"Mi,  gigi mbak  Hanin sakit," keluh anakku tadi pagi. Berlari ia ke kamar mandi, sikat gigi. Begitu kebiasaannya setiap kali merasa sakit gigi. Berkumur, dan menggosok dengan kuat.

Mungkin karena sudah terbiasa, maka kali ini tidak kutanggapi serius.
"Sikat gigi sana, ada kotoran yang nyelip barangkali," sambil mengantar Hanin ke kamar mandi. Ia pun menurut saja.
"Masih sakit, Mi," terus menggosok-gosok bibirnya. Air matanya mulai menetes tapi tak mengeluarkan suara. Hanya sesenggukan.

Dengan sedikit berat, kuminta membuka mulutnya. Kulihat, kalau biasanya gigi geraham yang lubang terkena makanan, tapi kali ini Hanin menunjuk gigi depannya.

"Astagfirullah... lho Mbak, ini gigimu sudah tumbuh," aku meringis. Pasti dan jelas sakit ini. Gigi susunya belum tanggal, bahkan goyah saja tidak tapi gigi dewasanya sudah tumbuh.
Kubayangkan sakitnya... tentu sakit sekali. Keningku mengeluarkan banyak keringat. Tiba-tiba jantung berdetak lebih cepat. Apa yang harus kulakukan? Apalagi ini tanggal merah, libur nasional. Long weekend. Mana ada dokter gigi buka di hari libur seperti ini.

Ah... Iya, aku punya kenalan dokter gigi. Segera kucari nomor handphonnya. Ketemu. Drg. Wildan.
Menunggu pesan balasan darinya setelah konsultasi via whatsapp.

"Dicabut saja mbak. Kalau tidak, nanti gigi dewasanya tidak rapi." sirrr.... rasanya hatiku. Apa tidak sakit ya? Gigi belum goyah, sehat tidak berlubang harus dicabut?

Bertanya pada Hanin, meminta persetujuannya sekaligus menyampaikan sebab akibatnya. Deal! Hanin mau giginya dicabut.

Sehari setelahnya, janjian bertemu drg. Wildan. Antara takut dan ingin, seperti itu gambaran wajah Hanin.

Dan.... tara.... tidak sampai 10 menit gigi itu sudah di jari dokter Wildan. Tanpa mengeluh, tanpa tangisan.
Luar biasa! Hebat!

#30DWCjilid5
#Day29
Dwi Restanti
14.01
9/5/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar