(Tak) Sayangkah?

Posting Komentar

Rutinitas mandi yang selalu menjadi ajang perang lidah. Teriakan demi teriakan silih berganti.

"Ayo, mbak. Sudah sore. Segera mandi ya!"
"Ayo, mbak. Mainannya nanti selesai mandi,"
"Mbak, wajahnya udah dibasuh dengan air?"
"Mbak, segera selesaikan mandinya. Lamanya...,"
"Mbak, ayo segera dicari bajunya!"
"Lho... bajunya belum dipakai?"
"Disisir to mbak, rambutnya itu!"
"Bedaknya?"

Capek? Iya. Berhenti meneriakinya? Tidak akan.
Mengapa? Karena saya ingin membuat anak mandiri. Apa hubungannya?
Mungkin, sebagian dari kita akan langsung turun tangan saat anak melakukan sesuatu dalam waktu yang relatif lama. Tidak sabaran. Seperti mandi,  tadi. Kalau kita menganggap mandi itu suatu kewajiban ya biarlah seperti itu. Cukup.

Sebenarnya ada makna dibalik tidak campur tangannya orang  tua yang memberikan tugas kepada anak, sesuai usianya. Cukup satu kata. MANDIRI.

Siapa sih, orang tua yang mau anaknya tidak mandiri? Tidak ada. Apa yang mereka lakukan? Nihil. Ingin anak mandiri, tapi mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi semua ada asistennya. Dilayani. Anak tinggal teriak, apa yang diinginkan datang, terpenuhi.

Jangan pakai alasan, kasihan ya!
Rasa kasihan kita saat ini,  dapat membunuhnya kelak. Sadar atau tidak. Dia tidak akan bisa melakukan apa-apa, jika selama hidupnya bak diva Indonesia. Gak terasa ya mak?

Sayang ada tempat dan waktunya.
Biarkan dia bereksplor!

Salam sukses emak!

#30DWCjilid5
#Day 26

Dwi Restanti
22.30
6/5/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar