Konvoi Putih Abu

Posting Komentar

Deruman suara motor terdengar bising pagi ini,  Rabu, 3 Mei 2017 di jalan-jalan sekitar Nganjuk. Pemuda-pemudi berseragam putih abu-abu bersorak sorai meluapkan kegembiraan atas kelulusan mereka. Coretan warna-warni di baju seragam seakan mewakili keceriaan pertanda mereka telah usai menempuh pendidikan sekolah menengah tingkat atas. Konvoi motor, sebagian tanpa memakai helm, teriak-teriak, dan hampir memenuhi badan jalan.

Memang, sehari sebelumnya, Selasa,  2 Mei seluruh SMA/SMK mengumumkan kelulusan bagi siswa-siswinya kelas XII tahun pelajaran 2016-2017. Perlu dilihat, mak. Penentu kelulusan sekarang bukan di Ujian Nasional (UN) tetapi di USBN dan ini tergantung pada penilaian guru. Keseharian siswa. Ujian yang dulu menjadi momok,  sekarang bukan lagi penentu.

Kembali ke konvoi, mak. Miris memang melihatnya.

Adakah manfaat yang bisa diambil? Rasa-rasanya kok tidak ada ya, mak. Apa tidak lebih baik, berdoa bersama, sujud syukur atas nikmat yang masih diberikan Allah. Masih dimudahkan saat ujian sehingga lulus? Atau berikan dan sumbangkan baju seragamnya kepada mereka yang membutuhkan namun berkekurangan? Seperti itu, lebih baik kan mak?  Menurut kita. Orang yang merasa terganggu dengan aksi konvoi ini. Kita mencibir, "terus kalau sudah lulus SMA, mau ngapain? Apa dikira lulus SMA itu berarti sudah 'wah'  gitu?!!"

Tapi coba kita tanyakan pada mereka agar tidak salah duga. Siapa tahu ada manfaat yang mereka peroleh.

Saya tanyakan, walau tidak semuanya. Ternyata dia hanya ikut-ikutan saja, mak. Diajak teman untuk meramaikan konvoi. Tanda solidaritas, kesetiakawanan katanya. Ada beberapa yang menyampaikan bahwa ini bentuk kegembiraannya karena telah lulus SMA.

Mengapa mereka gembira dengan kelulusannya dari sekolah?

Sebagian mereka menjawab bahwa sekolah itu capek, harus mengerjakan tugas-tugas. Harus berangkat pagi, pulang sore. Ada ujian yang membuat pusing. Kalau tidak menaati, dimarahi guru, dan banyak alasan lain sehingga bagi mereka selesai sekolah bagaikan lepas dari sangkar.

Nah? Ternyata walaupun menurut kita tidak ada manfaatnya, bagi mereka konvoi itu adalah bentuk ekspresi kegembiraannya. Apakah ini salah, mak?
Kalau dari sisi kita, sebagai orang awam dan sudah mengalami lika-liku kehidupan konvoi ini tidak berguna. Salah. Tapi, tidak dari segi mereka. Mereka menganggap itu wajar saja. Mereka tahunya cara untuk meluapkan kegembiraan, ya dengan konvoi itu.

Lantas apa tujuan corat-coret di baju? Ada makna di balik aksi yang sebagian besar kita menyayangkan hal tersebut. Mereka menorehkan sesuatu yang bisa menjadi kenangan di baju teman-temannya. Agar nanti,  sewaktu melihat baju itu bisa mengingat siapa saja temannya dan bisa flashback masa SMA lagi.

Apakah ini salah?
Sebenarnya secara esensi tidak salah, hanya caranya yang kurang tepat. Coba kalau diarahkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya mengajak mereka sujud syukur dan mengucapkan terima kasih satu persatu ke setiap guru yang ada di sekolahnya. Bisa juga dengan mengalihkan ekspresi corat-coret mereka dengan selembar kain atau dinding untuk karya grafiti. Menggalang pengumpulan seragam kemudian disumbangkan lewat sekolah. Atau mungkin sekedar makan runak bersama di sekolah.
Sama saja, kan mak?

Nah, yuk mak... ke depan kita berikan wawasan seperti ini ke generasi berikutnya. Paling tidak kita mulai dari anak kita sendiri.

Mari sama-sama belajar jadi emak yang bijak.
Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Salam Super Emak!

#KETIK#1
#Harike4

Dwi Restanti
11.39
3/5/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar