Kontradiksi Ramadhan

2 komentar

"Teman-teman, hati-hati ya. Barusan kejadian di ATM BRI Tiripan, orang dijambret saat baru keluar dari ambil uang. Begitu buka pintu, dompetnya langsung ditarik orang. Lebih waspada ya, terutama saat di ATM"

Begitu pesan di grup whastapp yang baru saya terima sore ini, tanggal 12 Mei 2017. ATM BRI Tiripan masuk dalam wilayah kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk.

Pelaku akhirnya tertangkap dan jadi bahan gebuk massa. Dihakimi oleh warga yang geram terhadap aksi penjambretan ini. Tak heran, karena kejadian saat masih siang hari dan kondisi di tempat ramai. Untung pihak kepolisian segera datang, sehingga tersangka bisa diamankan.

Beberapa hari lalu juga terjadi aksi pencurian di ruko milik teman saat tengah malam. Sekitar pukul 00.11, di grup whastapp juga, seorang teman meminta tolong untuk diteleponkan polisi karena mendengar rolling doornya dibuka, kemudian ada suara-suara menggeser barang berat. Kebetulan di grup ini ada yang rumahnya berdekatan, langsung melapor ke polsek setempat sehingga rumah langsung didatangi petugas kepolisian. Setelah digeledah, tidak ditemukan siapapun. Namun dari rekaman CCTV jelas ada tiga orang di dapur. Beruntung tidak ada barang yang hilang.

Merinding, jika mendapat kabar dari teman-teman seperti ini. Dekat di sekitar kita. Kejahatan dan kriminalitas sangat rawan terjadi. Termasuk di kota kecil seperti Nganjuk ini.

Apa penyebab angka kriminalitas ini semakin meningkat? Memenuhi kebutuhan pokok yang kian berat. Saat ini bisa dibilang masa paceklik bagi masyarakat. Terutama bagi buruh tani. Tidak ada hal yang bisa dikerjakan di sawah. Selain sepi pekerjaan, tenaga manusia juga mulai tergantikan oleh mesin.

Menjelang Ramadhan biasanya kejahatan meningkat. Selain adanya peluang, beberapa karena alasan pemenuhan uang belanja selama bulan puasa yang memang cenderung naik. Harga-harga sembako  merangkak tinggi serta gaya konsumtif luar biasa.

Hal ini kontradiksi dengan bulan Ramadhan sendiri. Dimana pada bulan ini, umat muslim menjalankan puasa. Secara logika akal sehat, seharusnya belanja kebutuhan semakin menurun. Mengingat yang biasanya makan sehari tiga kali menjadi dua kali sehari. Bukankah ini berarti uang belanja berkurang?

Kejahatan meningkat, ini pun kontradiksi dengan Ramadhan. Dianjurkan memperbanyak amal ibadah. Banyak berbuat kebaikan, menjaga anggota tubuh dari hal-hal yang membatalkan puasa, berdzikir, dan bersedekah. Tetapi mengapa justru kriminalitas bertambah?

Jika dirunut, akar dari semua ini adalah gaya hidup yang sudah membudaya di masyarakat kita. Bulan puasa yang dimaksudkan agar umat muslim bisa merasakan seperti apa kehidupan si fakir dan miskin ketika mereka merasakan haus dan lapar tanpa bisa mengobatinya karena keterbatasan harta, malah diisi dengan konsumsi yang berlebihan saat sahur atau berbuka. Menu-menu istimewa dihidangkan dengan dalih agar kut puasanya atau agar lebih semangat beribadahnya. Sehingga  berdampak pada kebutuhan belanja semakin tinggi.

Apakah hal ini salah? Tentu tidak, jika dilakukan hanya beberapa kali saja, misalnya setiap sepekan sekali. Tidak setiap hari.

Kejahatan bukan saja karena ada niat, tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah! Demikian pesan 'Bang Napi'.

Tetap waspada, bisa jadi kita bagian dari muslim yang meng'kontradiksi'kan Ramadhan. Terus mengintropeksi diri.

Mari kita mengembalikan fitrah Ramadhan. Bulan yang dimuliakan, penuh berkah dan limpahan rahmat dariNya dengan memperbanyak ibadah dan empati kepada si papa.

#KETIK #1
#Harike13

Dwi Restanti
20.14
12/5/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

2 komentar

  1. Mantaap mba tantii..sukses yaaah 😊😊

    BalasHapus
  2. Kita bisa banyak belajar dari peristiwa yang ada disekitar kita, jika peristiwa tersebut peristiwa buruk harapanya tidak menimpa diri kita namun jika peristiwa itu baik harapanya kita bisa mencontohnya, sukses ya mbak tanti.

    BalasHapus

Posting Komentar