Bersyukur Punya Mantan

Posting Komentar

Mantan pacar....
Bawaannya baper ya, kalau ingat mantan. Seakan rekaman itu terulang lagi. Membayang kisah dua insan sedang bersama, bersenda gurau dan bercerita. Berjalan saling mendukung dan berbagi. Meski akhirnya harus terpisah jarak dan rasa dengan sebab yang terjelma. Logis dan masuk akal, walau ada pula yang gagal kita cerna.

Dia yang kini jauh disana, apa kabar? Ah... jadi kepo, ingin tahu keadaannya. Mengorek mencari informasi keberadaan sang pujaan hati (dulu). Apa dia baik-baik saja? Sudahkah move on? Bahagiakah? Sebahagia diri ini? Atau malah lebih?
Nah, kepo jadinya!

Sebenarnya, mengapa ada beberapa orang yang terbawa perasaannya (baper) ketika ditanya atau membicarakan tentang sang 'mantan'?

Sebelum kita bahas lebih jauh. Apa sih yang dimaksud mantan? Dalam kamus bahasa Indonesia V, mantan adalah bekas. Pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan saling mencintai, kekasih. Mantan pacar berarti bekas teman yang dulu saling mencintai.

Mengapa ada baper disana? Karena pernah saling mencintai. Ada perasaan pernah memiliki. Disinilah letak pembawa kebaperan itu. Memori atau kenangan ketika masih bersama akan terbuka kembali. Sehingga muncul rasa ingin tahu kabar dan keadaannya sekarang. Wajarkah?

Menurut psikolog Anna Surti Ariani bahwa melupakan mantan memang sulit. Telebih jika ia telah menjadi bagian hidup kita dalam waktu yang lama.
"Namun, Anda perlu mengingatnya dengan cara yang lebih tepat, yaitu sebagai masa lalu Anda, dan bukan masa depan." tuturnya dalam http://m.detik.com/wolipop/read/2016/05/17/193224/3212762/852/psikolog-mengingat-mantan-justru-cara-terbaik-untuk-melupakannya.

Hal ini benar, tak selalu tentang baper saat membicarakan mantan. Hasil survei yang saya lakukan ke beberapa teman SMA lulusan tahun 2000an, ada hikmah dari nemiliki seorang/lebih mantan. Adakah sisi positif yang dapat diambil dari memiliki mantan? Begitu kurang lebih pertanyaan yang saya ajukan.

Dari 10 orang yang memberikan jawaban, hanya satu yang tidak berkenan membuka lembaran tentang mantan. Bukan karena tidak mengingatnya atau telah dikunci rapat-rapat. Melainkan karena ingin menjaga keharmonisan dengan keluarga saat ini. Kebetulan sang istri sekarang adalah teman sekolah dengan sang mantan. Ada kekhawatiran terjadi kecemburuan.

Sementara yang 8 menyampaikan bahwa mereka bersyukur mempunyai para mantan. Alasan terbanyak, karena saat ini merasa mendapatkan pasangan yang paling tepat, meski di awal ada sedikit keraguan atas pilihannya. Sehingga sang mantan sekarang menjadi teman baik. Ada motivasi menjadi lebih baik dibanding saat bersama mantan. Perbaikan kualitas diri.

Satu sisanya menyampaikan ada mantannya yang saat ini menjadikannya musuh, tidak mau bertegur sapa. Hanya menyalahkan dan mencaci. Sehingga menjadi kenangan buruk pernah mengenalnya.

Mantan adalah masa lalu yang patut disyukuri, setidaknya kita pernah menjadi bagian dari kisahnya. "Terus mengingatnya pada waktu yang tepat, maka tak ada lagi penasaran. Dan pada akhirnya bisa mengurangi kenangan bersamanya" saran dari sang psikolog.

Masa sekarang dan masa depan adalah milik kita, bukan dengan sang mantan. Ambil hikmah positifnya, tinggalkan yang negatif.

Life must go on. Let's move on!

#KETIK #1
#HARIKE12

Dwi Restanti
14.36
11/5/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar