Berbeda Sudut

Posting Komentar

Hai, mak...
Apa kabar anaknya?

Baru saja, di grup bisnis yang saya ikuti ada pembahasan yang seru. Bukan tentang jenis dagangan apa yang laku atau berapa omzet yang sudah tercapai.

Awalnya ada sesi sharing materi tentang 'bagaimana agar rejeki datang ke kita'. Di sini disampaikan beberapa hal yang harus dilakukaan sebagai usaha agar 'rezeki datang ke kita,  bukan kita yang mengejar rezeki'. Biasalah ya, mak. Kalau ketemu para pebisnis , yang dibicarakan kalau tidak marketing ya omzet. Namun, kali ini berbeda, agar rejeki yang datang ada beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya :
1. memuliakan orang tua dan mertua (jika sudah menikah)
2. menghormati pasangan dan jangan pernah membentak ke anak (jika sudah menikah)
3. berikan manfaat dalam produk.

Selain ketiga hal diatas, bagi yang muslim djtambah dengan usaha memantaskan diri dengan :
1. membiasakan sholat tabajud
2. subuh berjamaah
3. sholat dhuha
4. menunggu waktu sholat wajib (10-15 menit sebelum masuk waktu sholat sudah menyiapkan diri)
5. sedekah harian
6. berkenalan dengan orang baru/ silaturahim
Bagi yang non muslim menyesuaikan ibadah masing-masing, mak.

Nah, ketika di ritual ibadah inilah ada sedikit perdebatan antara 'melakukan ibadah-ibadah ini agar rezeki datang' versus 'melakukan ibadah kok mengharapkan dibalas dengan kelancaran rezeki'.

Pro dan kontra di ranah 'niat'. Praktisi bertemu akademisi. Kebetulan yang berdebat adalah seorang kontraktor properti dengan dosen.

Sang kontraktor berbagi tentang hal-hal yang memang terbukti sudah dilakoninya. Mendatangkan rezeki tanpa mencari dengan amalan-amalan di atas. Sang dosen mengingatkan agar niatnya jangan salah. Jangan sampai kesan 'mendikte' Tuhan dengan usaha yang dilakukan.

Tidak ada yang salah. Meluruskan niat memang sangat perlu. Bahkan ada hadis yang menyampaikan bahwa "segala sesuatu tergantung pada niatnya". Melakukan amalan-amalan dengan menghitung-hitung balasannya pun tidak masalah. Karena memang ada beberapa tingkatan keimanan  manusia di bumi ini.

Yang pertama, iman karena mengharap surgaNya. Melakukan sesuatu karena mengharap dimasukkan ke surga. Meminta dibalas dengan kebaikan.

Kedua, iman karena takut neraka. Ada metakutan disini, agar tidak digolongkan ahli neraka, maka beriman dan melakukan amalan sholeh.

Yang terakhir, iman karena Lillah. Hanya karena Allah. Tanpa embel apa-apa. Terserah Allah mau memberikan kehidupan yang bagaimana. Ini adalah tingkatan tertinggi.

Jadi, mak. Apapun yang kita lakukan, niatkan untuk kebaikan. Niat itu kepentingan pribadi masing-masing. Pilih pro atau kontra, mempunyai alasan dan sudut pandang sendiri-sendiri. Yang terpenting harus dilandasi dengan ilmu.

Mari menjadi emak yang bijaksana!
Emak Galau? No Way!
Salam Super Emak!

#30DWCjilid5
#Day23

Dwi Restanti
21.42
3/5/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar