Andai Dosa Berwarna

1 komentar

Halo, mak...! Apa kabar anaknya? Super istimewa, kan?

Anak emak senang menggambar atau mewarnai?

Hanin, anak pertama saya tidak begitu telaten kalau diminta mewarnai. Andai ada pilihan lain, sepertinya cenderung akan mengerjakan hal lain saja. Namun, beberapa hari lalu, ia harus mewarnai karena konsekuensi membeli buku mewarna saat melihat bazar buku. Mengajarkan bertanggung jawab.

"Mi, ini diwarna apa?" Hanin menunjuk gambar wajah anak sedang bermain lompat tali.
"Menurut mbak Hanin, yang pas warna apa?" kutanya balik.
Ia diam. Berpikir, mak. Lalu asyik mewarna lagi. Setelah selesai, ia tunjukkan pada saya. Walah, mak... wajah anak dalam gambar itu, pipinya diwarna kuning, keningnya berwarna hijau, sementara hidung sampai dagu diwarna merah. Tak hanya itu, kedua kulit lengan diwarna hitam. Awalnya ingin tertawa, tapi kasihan Hanin. Tidak tertawa itu juga bagaimana. Akhirnya saya hanya bisa mengangkat kelopak mata sambil tersenyum.

Tetiba terbersit di benak saya, mak. Bagaimana kalau kita beneran seperti itu. Teringat materi kajian yang biasa saya ikuti setiap Selasa, beberapa minggu sebelumnya. Bersyukurlah kita, bahwa Allah sangat sayang kepada manusia. Bayangkan saja, seandainya imbalan perbuatan kita langsung ditampakkan di dunia. Masih mampukah kita menanggung beban dosa yang pernah dilakukan. Satu dosa diganjar beban satu kilo, misalnya. Tak terbayang berapa ton beban yang kita pikul. Ah... tidak usah bebanlah, mak. Seperti gambar Hanin tadi, kalau kita berbohong maka sebagian tubuh berubah warna menjadi merah, dosa menggunjing kulit berubah menjadi hijau, atau saat kita iri, dengki sebagian kulit berubah juga warnanya menjadi hitam. Ngeri, mak. Jadi seperti apa kita ini andai dosa berwarna. Sekali lagi, harus banyak bersyukur. Dia tidak mengatur demikian. Allah masih menutup aib kita, jangan sampai kita membuka aib sendiri apalagi aib orang lain. Seburuk apa pun itu.

Mak, tentunya masih ingat hadis berikut :
"Barangsiapa menutup aib saudaranya (muslim), maka Allah akan menutup aibnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan sampai ya, mak. Sengaja atau tidak. Jangan sampai kita membuka aib orang lain, karena semua kembali kepada diri sendiri. Membeberkan aib orang lain sama artinya mempertontonkan  aib sendiri. Membuat dosa kita berwarna.

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar