Anakku Jenis Bibit Apa Ya?

Posting Komentar

Anakku, Jenis Bibit Apa Ya?

Dear emak-emak super...
Apa kabar anaknya?
Selalu teristimewa kan, mak?

Pak Tani kalau menanam padi, kira-kira bibit apa ya mak yang disemai?
Bibit jagung kah?

Bisa tidak ya, mak. Seandainya pak tani ini menyemai jagung kemudian berdoa siang dan malam, dirawat penuh ketelatenan, disiangi sepanjang hari agar tidak ada rumput mengganggu. Berharap setelah 3 bulanan memanen hasil padi yang bagus dan berbobot.

Atau, menyebar benih padi di sawah, kemudian dibiarkan setumbuh-tumbuhnya. Banyak rumput dibiarkan, tidak diairi, dan berharap memanen padi yang montok-montok?

Ya tidak mungkinlah! Begitu kira-kira jawaban emak. Betul??

Mengapa? Karena emak tahu, kalau ingin memanen padi yang montok berisi, kualitas bagus, dan berbobot pak tani harus menyemai bibit padi yang unggul, dengan perawatan ekstra. Dicabut tanaman lain yang mengganggu, dan dicukupi semua kebutuhan nutrisinya. Jangan bermimpi, menanam jagung tumbuh padi, apalagi memanennya.

100 buat emak!

Bagaimana dengan anak kita? Bisa disamakan tidak, mak? Kita ibaratkan emak adalah pak tani, dan anak kita adalah harapan kita. Padi.

Kalau pak tani, mempunyai benih padi. Tentunya tidak mungkin berharap akan menjadi jagung saat ditanam. Demikan juga kita.

Menurut ayah Edy dalam salah satu bukunya bahwa setiap orang, lahir dengan membawa bibit unggul masing-masing. Jika anak berbibit penyanyi ya cenderung tumbuh sebagai penyanyi. Bibit arsitek ya nanti akan tumbuh menjadi pohon arsitek, jika dibesarkan dengan baik.

Seorang Gede Prama pun menyampaikan "Mengapa negeri ini rapuh? Karena banyak pohon beringin ingin jadi pohon jeruk, dan pohon jeruk ingin jadi pohon nangga."

Nah, kita masuk yang mana, mak?
Jadi pak tani yang memaksakan bibit padi bertumbuh menjadi jagung? Memaksakan anak berbakat pengusaha menjadi dokter?

Atau, kita merupakan pohon jeruk yang ingin jadi pohon mangga? Melakukan hal-hal yang diluar kemampuan?

Yang mana, mak?
Apa, mak? Keduanya?

Kita telah memilih sesuatu yang bukan passion dan melakukan hal yang sama pada anak-anak kita?

Memang, saat ini seperti itulah yang kita lihat di sekitar kita. Atau bahkan mungkin secara tidak sadar, kita pun melakukan hal demikian. Mendoktrinkan kepada anak bahwa nanti kalau besar harus menjadi dokter. Menjadi tentara yang gagah perkasa, atau menjadi seorang pengacara yang hebat.

Sehingga ketika anak ditanya cita-citanya apa, hampir semua seragam. Ingin menjadi dokter. Apa ini salah? Tentu tidak. Menginginkan anak menjadi dokter, tentara, atau pengacara tidaklah salah. Hanya saja, mampukah anak kita? Sesuai dengan potensi yang dia miliki? Atau sekedar berpikir "senangkah dia?"
Ketika pak tani mempunyai bibit jagung dan dia berharap tumbuh menjadi padi dan dapat memanennya, inilah yang tidak benar. Ketika anak kita berpotensi di seni rupa, kemudian kita paksakan dia menjadi seorang dokter. Tentunya akan bermasalah. Terutama bagi dirinya dan berimbas pada kita.

Sialnya lagi, pak tani tidak tahu bibit yang dia punya itu jenis bibit apa. Masalahnya, kita tidak diberitahu, anak kita berpotensi di bidang apa. Tidak bermerek potensi tertentu. Terpendam. Tidak ada yang tahu.

Bagaimana akhirnya pak tani bisa mengetahui kalau bibit yang dia punyai adalah bibit jagung bukan padi?

Yup, betul, mak!
Mengamati, merasakan, dan diperhatikan barulah disimpulkan.

Sama. Seharusnya demikian juga yang kita lakukan kepada anak kita. Untuk mengetahui dia berpotensi di bidang apa, perlu pengamatan, merasakan, dan memperhatikan.

Bagaimana caranya, mak?
Mudah. Emak, tahu seperti apa seorang dokter itu? Apa yang mak bayangkan dengan seorang dokter? Cenderung pendiam, suka mengamati, pakai kacamata, dan serius. Cocokkan. Anak kita mempunyai ciri seperti dokter tidak? Berikan beberapa mainan dari berbagai profesi, misalnya peralatan dokter, tukang, pilot, dan yang lainnya. Kemudian amati, dia memilih nemainkan yang mana. Mainan itulah passionnya. Ini disebut dengan stimulasi.

Kemudian buat daftar minat dan bakat. Minat disini adalah kesukaan dia. Bakat adalah bawaan ketika lahir. Bakat bisa dilihat dari hasil pekerjaan yang anak lakukan. Jika hasilnya rapi di craft berarti bakatnya disini.

Bisa dipahami, mak?
Mari kenali bibit yang kita punya agar tak salah dalam memperlakukan dan kecewa saat panen.

Salam supermom!

Dwi Restanti
20.13
6/5/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar