Senyum telah Kembali

Posting Komentar

Dua hari dua malam berada di ruang inap kelas 2 rumah sakit Bakti Husada memang terasa lama. Meski ranjang satunya tidak terisi pasien lain, tapi tetaplah rumah sendiri adalah tempat paling nyaman. Sekalipun cuma gubug bambu. Sunyi malam menyelimuti berbayang ketidakpastian. Derit roda menggelinding seakan menjadi sebuah pertanda. Makan tak enak,  tidur tak nyenyak.
Umi menggeser bantal panjang bersandar pada tembok. Punggungnya telah sayu tak tersentuh udara segar. Berbaring tanpa bisa bernafas. Pelan, menyandarkan bahu ke hadapan tembok. Rambutnya terurai ingin bergerak. Kakinya berselonjor berbantalkan guling. Nyeri di perutnya sedikit berkurang. Derit roda membeti tanda waktu sarapan tiba.
"Selamat pagi bu Tita... Ini sarapannya. Dihabiskan ya!" senyum menggembirakan yang melihat.
Sop wortel dan kentang.  "Wah...  kesukaanku nih" mencium aroma segar gurih dari semangkok sop. Diseruputnya kuah berwarna putih keemasan itu. Gelengan kepuasan sambil memejamkan mata.
"Sopnya enak. Ah... berarti aku sudah boleh pulang," analisa umi. Lidahnya sudah tidak pahit lagi,  sudah bisa merasakan masakan enak. Mood makannya telah kembali. Sendokan kedua berhenti di mulut mangkok  saat abi menggeser pintu. Wajahnya kuyu, lelah yang menumpuk. Setegap dan sekuat apapun seorang abi, jika harus begadang 2 hari tetap akan tumbang juga. Melihat umi sudah bisa bersandar dan mau makan, menghilangkan rasa capek yang didera. Tersenyum.
"Umi...," menuju sisi ranjang. Dikecup kening umi.
"Kapan boleh pulang, Bi?" sedetik kemudian. Dipandangnya abi yang menggeser kursi, mendekatkanpada sisi ranjang. Sesendok kuah sop kembali dituang ke mulunya. Bertatapan, penuh kehangatan.
"Umi sudah merasa mendingan?" me atap mata umi,  mencari sesuatu.
"Ini,  sudah mau habis , Bi" menyodorkan mangkok yang hampir kosong.
"Lhah...  apa hubungannya, Mi? Memangnya yang sakit mangkoknya?" Mengeryit. Umi terkekeh, bisa saja abinya bercanda.
"Hehehe... Gak ada yang sakit, Bi. Kalau sop sayur habis,  itu tandanya umi doyan makan. Kalau umi sudah doyan berarti udah gak apa-apa. Begitu,  Bi!"
"Oh... kirain mangkoknya yang sakit. Suapi dong, Mi..., " membuka mulut.
Seorang bidan yang berpawakan mungil datang dan tersenyum. Seakan ikut bersuka melihat keceriaan kamar Nusa Indah ini.
" Permisi, Bu. Saya cek dulu ya, " meletakkan ujung stetoskop di lipatan tangan umi. Normal.
" Semuanya sudah membaik, Alhamdulillah. Siang ini Ibu sudah diizinkan pulang. Bapak, segera mengurus administrasi ya," bidan itu menerangkan. Keceriaan tergambar jelas, ruangan ini terasa sejuk, penuh kehangatan. Seakan tahu,  penghuninya segera akan pergi. Salam perpisahan darinya sungguh indah.

#30DWCjilid5
#Day13

Dwi Restanti
21.20
23/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar