Permen dan Minimarket

Posting Komentar

"Maafkan mbak Hanin, Mi... Maaf....," mulut mungil bocah berusia 6,5 tahun itu terus mengucapkan permohonan maaf pada perempuan yang dipanggilnya umi. Air mata terus membanjiri wajah kuyu dengan jilbab bertuliskan nama sebuah TK terkenal di kota Kunjang. Tubuhnya menelungkup, tangannya yang kurus terjulur meminta dimaafkan. Sengguknya dalam seakan menggambarkan penyesalan yang tinggi.

Perempuan yang dipanggilnya umi,  diam terpaku. Ia tak mengerti apa yang telah terjadi. Seingatnya,  dia sedang melipat baju cucian yang baru saja kering. Di tikar tua, digelarnya di lantai dekat ruang tamu. Matanya mulai mengantuk, padahal baru beberapa baju yang dilipat. Umi melihat jam dinding sudah menunjuk angka 2.
"Kemana Abi dan Hanin ini, sudah jam segini kok belum sampai rumah," gumannya dalam hati. Matanya kian berat mengajak untuk tidur barang sekejap. Belum sampai ia membaringkan tubuh. Badannya sudah disergap tangisan dari anaknya.

Ia bingung. "Apa yang telah terjadi? Mengapa Hanin minta maaf?" dipandangnya sosok lelaki yang baru masuk rumah. Dilihatnya mata abi memerah, amarah besar seakan ingin meledak. Nafasnyaa tersengal-sengal. Berjalan tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun. Langkahnya cepat, masuk ke kamar. Sebentar. Lalu keluar lagi.
"Ah... Mau apa abi ini, membawa teba pemukul nyamuk?" belum sempat umi menemukan jawaban atas pertanyaannya...
"Sini... tangannya mana!" abi memyentak Hanin yang semakin ketakutan. Air mata Hanin semakin deras. Badannya semakin mengkerut. Takut.
"Maaf bi... Maaf! Mbak Hanin janji tidak akn mengulangi," isaknya semakin mengeras. Menyembunyikan kedua tangannya dibalik rok uminya. Wajahnya tenggelam dalam pangkuan umi.
"Maaf...maaf," terus meminta maaf. Umi yang tak tahu apa-apa mendekap tubuh gemetar Hanin. Umi memandang abi, mencari tahu apa yang terjadi. Tapi tak bisa menemukan. Hatinya hanya mengisyaratkan, Hanin berbuat salah. Namun apa, umi tak bisa mengira-ngira. Tak biasanya abi semarah ini. Toh kalaupun marah lebih dilampiaskan dengan kata-kata bukan tindakan seperti ini. Apa?
"Apa ini? Apa yang membuat abi semarah ini?  Sampai-sampai harus memukul?" umi semakin mendekap Hanin. Batinnya terus bergemuruh. Ditenangkannya anak perempuan di pangkuan. Dikecup rambutnya. Diyakinkannya semua akan baik-baik saja. Tangan umi memberi isyarat kepada abi. Untuk tenang dan meninggalkan mereka berdua. Abi menurunkan tangannya, nafasnya mulai mereda. Dibuang teba di genggaman. Lalu pergi. Dadanya tetap bergejolak,  panas. Ia merasa gagal menjadi orang tua. Tak pernah terlintas di pikirannya hal seperti ini akan terjadi. Sedikit pun tidak.

Di pangkuan dan dekapan umi,  membuat Hanin sedikit tenang. Matanya yang sembab mulai mengering. Ia mendongak. Memandang wajah umi yang tetap lembut.
"Sini, duduk di samping umi," menepuk tikar di sebelahnya. Hanin mengerti,  kemudian menggeser duduknya.
"Ada apa,  abi sampai marah seperti tadi?" umi menyejajarkan matanya dengan mata Hanin. Agar Hanin yakin, ia tidak menghakimi. Tidak marah.
"Tadi... mbak Hanin diajak ke minimarket. Mbak Hanin ambil permen. Mbak Hanin masukkan ke saku," suaranya parau, pelan, takut.
"Abi marah?" umi belum mengerti kesalahannya dimana. Hanin mengangguk.

"Mbak Hanin, cuci muka dulu ya. Biar gak sakit matanya. Biar segar," pinta umi. Ia ingin meminta penjelasan ke abi. Apa yang sebenarnya terjadi. Kalau hanya meminta permen,  mana mungkin sampai semarah ini. Didekati abi yang terbaring di kamar. Pelan ia bangunkan abi yang terpejam matanya. Tapi umi yakin abi belum tidur. Pelan diusapnya rambut abi. Abi membuka mata kemudian bangkit dari rebahannya.
"Hanin mengambil permen,  Mi. Mencuri." seakan tahu umi butuh penjelasan. Abi menarik nafas panjang,  kemudian melanjutkan ceritanya ke umi.
"Dia tidak minta ke abi. Selesai abi membayar, ia melihat permen. Lalu mengambil satu, dimasukkan saku. Pelan-pelan meninggalkan kasir dan keluar," matanya memerah.
"Kalau tidak abi cegah, sudah dibawa tadi permennya,"
"Kita salah,  Mi. Ini salah abi, salah umi. Hanin bisa mencuri," perasaan bersalah itu bisa dirasakan oleh umi.
"Tapi Bi, benarkah Hanin berniat mencuri?" umi menatap abi dalam-dalam. Meski hatinya juga bergemuruh. Antara yakin dan tidak bahwa putrinya bisa mencuri. Ia pergi, menemui Hanin lagi.

Dilihatnya Hanin sudah semakin tenang. Umi mendekat. Lekat ia tatap wajah polos anak kesayangannya. Ragu,  tapi ia harus mencari kejelasan ini.
"Mbak Hanin tahu,  boleh tidak mengambil permen lalu dimasukkan ke saku?" pancingnya.
"Iya,  Mi. Mbak Hanin janji tidak akan mengulangi lagi. Janji,  Mi," pintanya tetap dengan mengulurkan kedua tangannya, meminta maaf. Air mata mulai menggenang lagi.
"Memangnya itu salah?" umi memiringkan kepala ke kiri, kelopak matanya melebar, menunggu jawaban.
" Kata abi itu gak boleh," jelas Hanin dengan mata menunduk.
"Mbak Hanin sudah minta ke abi?"
"Belum. Mbak Hanin tahu pasti  gak boleh," jemarinya digerakkan. Dug... jantung umi seakan berhenti berdetak. Anak ini begitu polosnya.
"Bi... benar. Kita yang salah. Selama ini kita melarangnya membeli permen. Tapi kita lupa tidak memberitahu Hanin mengapa kita tidak membolehkannya," hati umi kian terhempas. Perasaan bersalah itu kian mendesaknya. Menyudutkannya. Dia tersadar, cara mendidik Hanin masih salah,  jauh dari sempurna. Dia kira selama ini cara yang paling benar. Nyatanya... Hanin belum tumbuh dengan baik. Psikisnya belum sebaik tubuhnya.
"Allahu Akbar,  astagfirullah... Astagfirullah..., " pelan diucapkannya istigfar.
" Maafkan abi dan umi ya mbak? Abi dan umi bukan melarang mbak Hanin membeli permen. Kalau mbak Hanin ingin permen,  bilang dulu ke umi atau abi. Jangan mengambil seperti tadi. Allah tidak suka orang yang suka mengambil yang bukan miliknya. Tidak apa-apa, tapi jangan diulangi lagi ya, apa pun itu kalau bukan punya mbak Hanin jangan diambil ya," diraupnya wajah Hanin. Dipandangnya penuh rasa bersalah. Pelukan itu menyadarkan umi, dia dan abi harus banyak belajar menjadi orang tua yang baik. Hanin mengangguk membalas dekapan umi. Isak tangis itu melegakan dan memberi sebuah pelajaran.

                                      ~~~~~~~~§§§§§§§~~~~~~~~

Note :
Teruntuk bunda dan ayah,  umi dan abi,  semua orang tua, mari kita didik anak-anak kita dengan sudut pandang mereka. Setidaknya, kita sudah pernah mengalami masa seperti mereka sementara mereka belum pernah mengalami usia sekita. Selayaknya, kita yang mengerti mereka bukan sebaliknya.

#30DWCjilid5
#Day15

Dwi Restanti
20.17
25/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar