Mutiara yang (akan) dirindukan

Posting Komentar

Menjelang magrib,  Hanin baru pulang dari rumah Rina, setelah sempat pulang pukul 16an untuk mandi dan sholat. Hanin, meski baru berumur 6 tahunan tak pernah meninggalkan shilat 5 waktu. Walau kadang harus diingatkan abi atau uminya.

Malam kian menjelang,  kumandang adzan membuyarkan lamunan senja. Tergerus oleh kelamnya malam. Sembunyi di batas fatamorgana. Lenyap. Sunyi
"Mi... boleh ya Mbak Hanin sayang?" menunjuk perut umi yang sudah besar. Calon adik Hanin sebentar lagi akan menemaninya di dunia ini. Mengangguk,  seakan menuntun uminya agar mau mengikuti gerakan kepalanya. Mengangguk,  membolehkannya mencium perut umi yang berisi adik yang sudah lama ia nantikan. Setelah pernah kecewa, adiknya yang pertama harus pergi sebelum sempat terlahir. Sepertinya kali ini Hanin tak mau kehilangan adik lagi. Teringat ketika itu, darah banyak keluar dari rahim uminya. Tiga hari sebelumnya,  uminya harus dibawa ke rumah sakit karena pendarahan. Setelah diberi obat, ternyata tidak kunjung berhenti. Malah segumpal daging merah dibawa abinya. Di gengaman. Tepat didepan Hanin. Semua bingung sendiri. Umi yang hampir pingsan di kamar mandi,  ketika tahu yang keluar adalah gumpalan darah. Abi yang linglung harus berbuat apa dengan daging penuh darah di genggamannya. Nenek yang menyesali kejadian itu. Serta Hanin yang terdiam,  tak tahu apa yang terjadi. Lalu menangis melihat uminya juga menangis. Lekat peristiwa itu di ingatannya.
"Boleh...," merengkuh kepala Hanin mendekat ke perutnya.
"Adik... nanti,  kalau cewek aku beri nama Mutiara,  kalau cowok aku beri nama Ahmad ya Mi?" mengelus-elus perut buncit umi. Tinggal menghitung hari menanti kehadiran adiknya.
"Iya,  boleh," meluruskan lututnya. Capek kalau harus duduk di atas kursi terus.
"Mi, adiknya cewek atau cowok to?" mencium perut umi lagi. Lalu menempelkan telinganya.
"Wah... Mi,  adiknya gerak-gerak," serunya. Merasakan lagi gerakan di perut. Terkekeh,  tersenyum,  tertawa sendiri. Seakan adiknya tahu sedang bermain dengan kakaknya. Sang kakak pun tahu,  adiknya minta diajak bermain.
"Mi,  kapan adik lahir?" tak sabar ingin bertemu dan bermain bersama. Mendongak,  menanti jawaban. Kembali umi tersenyum, membalas senyum polos anak pertamanya.
"Beberapa hari lagi,  insyaallah. Semoga adik sehat ya Mbak," mengusap perutnya yang semakin kencang menendang. Menjawab pertanyaan kakaknya.
"Iya kakak, sebentar lagi adik lahir. Menemani kakak bermain...," mungkin seperti itu seandainya bayi dalam perut itu bisa berbicara melalui gerakannya. Ikatan darah yang menyatukan hati mereka.

"Sudah,  ayo... Mbak Hanin lekas tidur. Jangan lupa baca doa ya?!" bangkit dari kursi spon empuk yang sudah mulai rusak. Mengulurkan tangan,  menyambut uluran tangan Hanin yang seakan minta digendong. Manja. Berdua berjalan bergandengan menuju tempat paling nyaman di rumah sebesar ini. Luas. Bahkan mungkin cukup untuk bermain sepak bola. Rumah joglo model jaman lawas. Tanpa sekat. Hanya kamar-kamar tidur yang bersekat. Selebihnya hanya dibatasi oleh seperangkat meja kursi atau lemari-lemari kayu yang berukuran besar pula.
"Mi, malam ini umi tidur sama mbak Hanin ya?" pintanya.
Mengeryitkan dahi "Lha... Mbak hanin bisa? Boboknya gak muter-muter? Nanti adik ketendang kaki mbak Hanin...," mendekatkan hidungnya ke pipi Hanin. Tersenyum.
"Eh... iya. Ya udah,  mbak Hanin bobok sama abi saja ya Mi?" mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa. Menyandarkan kaki di dua guling besar. Hanin memang luar biasa bergeraknya saat tidur. Posisi saat bangun dengan awal berangkat tidur selalu berkebalikan. Kalau awal menghadap ke barat,  bangunnya pasti ke timur. Kaki di utara,  saat bangun kepala yang di utara.
"Selamat bobok mbak, mimpi yang indah..., " kecup sayang di kening Hanin. Dipandangnya, "Maafkan umi nduk, umi belum bisa jadi ibu yang baik. Kau sangat pengertian dengan umi. Umi..."  tetes bening jatuh di pipinya. Dipandangnya wajah yang telah terlelap itu. Sejuk. Segera ia bangkit. Tidur di kamar yang berbeda. Memang sejak kehamilannya yang ketiga ini,  ia tak pernah tidur sekasur dengan Hanin. Bukan apa-apa, dia sangat menjaga buah hatinya kali ini. Ada sedikit trauma dengan kehamilan kedua yang harus direlakan untuk terlahir sangat muda. Masih 8 minggu kala itu,  segumpal daging keluar dari rahimnya. Ia tak ingin mengulangnya. Ia takut,  jika tidur bersama Hanin,  tanpa sengaja polah Hanin akan menyentuh atau menendang perutnya. Ia takut.

Sayup-sayup terdengar suara ayam berkokok. Hawa dingin menusuk tulang belulang. Sinar mentari pun enggan menyapa.
"Ah... sakit sekali pinggangku," susah payah umi bangun dari tidurnya. Dilihat kasur di sebelahnya. Abi tidak bersamanya.
"Bi... Abii...!" tak kunjung tersaut suaranya. Ia mencoba berdiri. Tangannya meraih meja di samping ranjang. Keringat mengucur di pelipis dan wajahnya. Degup jantungnya semakin keras. Sang jabang bayi seakan berontak,  berteriak hendak mengadu. Disangga perut buncit itu dengan gopoh.
"Allah... Abi dimana?" batin umi terus perlahan menuju ke kandang sapi.
"Abi biasanya membersihkan kandang," gumannya sendiri. Dibuka pintu belakang, sekilas dilihatnya sosok kurus yang sedang mengangkat seember air untuk ternaknya. Lidahnya ingin mengeluarkan kata-kata, namun tertahan. Ia memutuskan ke kamar mandi dahulu. Sakit yang dirasakan sudah sedikit mereda.
"Oh... Bii...!" panggilnya sontak saat melihat cairan bening keluar. Bergegas ia keluar dari kamar mandi. Dirapikan daster juga jilbabnya. Mulas itu kembali menyapa.
"Iya Mi? Ada apa? Perut umi kenapa? Sakit?" pertanyaan diberondongkan saat melihat keringat mulai bercucuran di tubuh istrinya. Wajahnya gusar, menanti jawaban. Lekas-lekas dicucinya tangan yang penuh kotoran ternak. Tergesa. Berlari, menunutun umi Hanin untuk duduk. Segera mengambil tas penuh baju, selimut,  popok dan segala tetek bengek untuk keperluannya. Motor tuanya dipanasi.
"Ke bidan sekarang Mi," dituntunnya umi ke boncengan. Hanin terbangun. Berisik suara abinya mengusik tidur lelapnya.
"Abi mau kemana?" mengucek matanya yang masih belum sempurna terbuka.
"Mbak Hanin dengan mbah Uti ya, abi mau mengantar umi ke bidan. Semoga adik segera lahir ya," jelas abi sambil lalu memutar setir gas. Dilingkarkannya kedua tangan umi di pinggangnya,  seakan tak mau lepas. Debar jantungnya tak bisa diajak kompromi. Meski sudah pernah menunggu hal seperti ini,  namun tetap saja cemas itu menghalau.

"Belum pak, silahkan mau ditunggu disini atau pulang dulu. Perkiraan saya, setelah sholat Jumat baru lahir," jelas seorang bidan yang dikunjunginya. Sekarang masih pukul 6 pagi. Masih 6 jam lagi untuk menunggu. Ditengok istrinya,  meminta persetujuan.
"Kami pulang saja dulu bu. Tapi sewaktu-waktu ibu ada di rumah to?" jawabnya meyakinkan. Ditaruhnya tas perlengkapan bayi itu. Pelan sekali laju motornya,  seakan tak ingin ada sedikit goncangan menambah lelah yang dirasakan umi.

"Bi, umi tidur dulu ya?" umi rebahan di kasur, badannya dimiringkan. Perutnya dialasi bantal agar nyaman. Jemarinya terus mengusap sang jabang bayi yang sebentar lagi hadir di dunia ini. Perlahan matanya sayup lalu pulas.

Dibalik pintu,  berdiri sosok laki-laki dengan kecemasan yang tertahan. Berkecamuk rasa batinnya. Pikirannya kacau melihat perempuan yang disayanginya bisa tertidur nyenyak.
"Ah... hanya pikiranku saja, akan baik-baik saja" dikecupnya kening perempuan itu. Kemudian pergi.

"Mi... apa tidak sebaiknya kita ke bu bidan sekarang?" sesampainya di rumah. Sholat Jumat kali ini dirasa lama bagi abi. Was-was akan keadaan istrinya.
"Iya bi,  ayo!" berjalan menuju pagar. Menunggu abi menyiapkan motor. Bidan desa memang tak begitu jauh,  hanya sekitar 1 km saja dari rumah ini.

"Lhoh...!" bu bidan nampak panik. Kembali ditekan-tekannya alat itu ke perut umi. Digeser ke kiri,  ke kanan,  ke atas,  ke bawah. Namun tak kunjung ketemu apa yang dicarinya. Diangkat alat perekam detak jantung itu. Dibersihkan. Gel kembali dioleskan. Pucat. Berhambur ia keluar,  menemui abi.
"Pak, segera di rujuk ke rumah sakit ya!" nafasnya memburu. Jemarinya sibuk mencari nomor rumah sakit. Telepon.
"Oh... iya. Daftar satu atas nama nyonya Tati ya. Sebentar lagi datang. Terima kasih" diakhiri pembicaraan itu. Kembali menekan tombol keypad.
"Mas, tolong pinjam mobilnya sekarang ya. Bisa? Bawa pasien ke rumah sakit. Darurat. Tak tunggu sekarang!"
Sementara abi,  terpaku. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Umi tiba-tiba ada di sampingnya. Tak mengeluh apa pun. Berjalan biasa, memang sedikit terlihat di wajahnya menahan sakit. Darurat.
"Umi tak kelihatan kesakitan. Mengapa bu bidan di telepon mengatakan darurat? Apa yang terjadi?" ia menuruti apa perintah bidan itu. Mengemas semua perlengkapan bayi yang sempat dikeluarkan dari tas. Sementara umi hanya mondar-mandir. Sesekali berhenti dan bersandar di tembok. Wajahnya kadang tegang,  namun kadang juga biasa saja. Abi mendekati bu bidan yang tengah sibuk menulis sesuatu di kertas. Sepertinya surat rujukan.
"Ada apa bu? Harus ke rumah sakit?" menanti jawaban dengan penuh harap.
"Maaf pak, detak jantung bayi semakin menurun. Harus segera ditolong,"

Mobil yang ditunggu sudah datang. Umi dan bidan segera naik ke mobil, tak lupa tas perlengkapan. Abi naik motor sendiri. Nanti kalau perlu apa-apa bisa dipakai kemana-mana motornya. Begitu pikirnya. Motor tua itu membuntuti di belakang mobil. 20 menit terasa lama baginya.
Ruang IGD. Sigap. Umi langsung ditangani perawat-perawat.
"Pak, maaf. Tidak ada pilihan lain. Biarkan ibu berjuang. Meski sakit buat ibu tapi ini lebih baik daripada operasi cesar. Setidaknya ibu akan cepat pulih kondisinya setelah melahirkan" bidan dan dokter rumah sakit mengelilinginya. Matanya berkunang-kunang.Keputusan ada di tangannya. Diam. Abi tak mampu menjawab. Sayup didengarnya rintihan umi. Meski tidak keras, abi bisa merasakan sakit yang tak terperi. Dilihatnya umi yang berbaring di dipan putih. Mencengkeram erat sprei.
"Kuatkan ya Allah. Kuatkan istriku. Aku tahu ini yang terbaik dariMU" doanya dalam keheningan.
"Bagaimana pak?" cepat diusapnya airmata yang membasah membanjiri pipinya. Ditatapnya sosok dibalik tirai.
"Iya dok, berikan yang terbaik buat istri saya," kemudian menandatangani berkas persetujuan.
"Bolehkah saya menemaninya di ruang persalinan?" harapnya.
"Boleh pak,  tapi jangan sampaikan ini kepada ibu," dokter kandungan itu mengintruksikan bidan dan perawat untuk membawa umi ke ruang persalinan.

Melewati lorong rumah sakit yang sunyi, menjelang magrib dengan beban yang begitu berat. Abi berjalan biasa saja, tak ingin istrinya tahu bahwa sesuatu telah terjadi. Ia tak ingin kesedihannya terlihat oleh umi. Abi mencoba tersenyum dalam pahit. Sampai di ruangan luas berjajar ranjang-ranjang persalinan. Sendiri. Tak ada pasien lain.
"Umi pasti bisa. Ingat waktu Hanin dulu. Umi pandai mengikuti intruksi abi kan? Nanti juga begitu ya... " pintanya. Umi tersenyum memandang suaminya. Kembali teringat waktu melahirkan anak pertamanya, lancar. Tak ada kesulitan apa-apa. Dia yakin kali ini pun demikian. Tapi memang sakitnya kali ini lebih daripada yang pertama. Umi teringat kata orang-orang, katanya kalau melahirkan anak urutan ganjil pasti sakitnya lipat-lipat.
"Mungkin benar kata orang, anak ketiga rasanya lebih sakit dari anak pertama atau kedua," batin umi sambil terus menahan nyeri yang luar biasa. Perutnya seakan mau jatuh, mendesak-desak ingin keluar namun tak kunjung keluar. Tertahan. Seperti ada yang menarik agar tidak keluar. Berat rasanya. Ia mengejan agar segera terlahir. Sia-sia.
"Kuat ya Mi, pasti bisa. Sebentar lagi. Sedikit lagi," hibur abi. Ditahannya air mata yang terbendung. Sekuat tenaga ditahannya.

Pujul 16.05. Masih terus berjuang. Sudah hampir satu jam berada di ruangan ini.
"Abi,  boleh sholat dulu Mi?" mengusap kening orang yang tengah merasakan sakit luar biasa. Hanya anggukan yang diterimanya. Badan itu kian lemas. Ia pun semakin tak kuat melihat kondisi umi yang terus berjuang. Ia tahu umi sosok yang kuat. Tapi....
Segera abi mengambil air wudhu. Dibasuhnya pelan seakan ingin mengadukan kesuntukannya pada air. Ingin meminta disegarkan oleh air. Sholat dan bermunajat. Meminta yang terbaik dari Yang Maha Kuasa. Dia yakin,  rencanaNYA adalah yang terbaik. Mungkin tidak saat ini baginya,  bagi umi,  bagi keluarganya. Entah baik itu untuk kapan. Tapi dia yakin.

Pukul 19.15 menit.
"Allahu akbar!" teriak umi. Saat bayi merah kebiruan itu terlahir. Keluar dari rahimnya. Lega. Plong. Rasa bahagia menyeruak setelah hampir 12 jam ia berjuang,  menahan rasa sakit yang mendera. Tapi...
"Kok tidak menagis mbak?" tanyanya. Melihat bayi itu diam saja. Tak bersuara. Juga tak terbuka bola matanya. Diam.
"Tidak, semoga tidak. Allah berikan yang terbaik," pintanya. Si 'mbak' tak menjawab. Ia tertunduk, melepaskan sesuatu. Kemudian menggendong bayi itu dan membawanya pergi.
"Minum Mi?" abi membuyarkan lamunan umi.
"Iya bi, sedikit saja," melupakan apa yang ada dipikirannya barusan. Ia ingin tidur barang sebentar. Dilihatnya abi tersenyum.
"Cewek lagi ya bi?" jemarinya dicium mesra sang suami.
"Iya,"
"Tapi kok gak diberikan inisiasi dini bi? Nanti adik gak mau menyusu umi," tanyanya penasaran. Sementara abi, diam. Tak tahu apa yabg harus disampaikan. Hatinya semakin bergetar. Bergemuruh. Tak bisa.
"Abi keluar sebentar ya Mi," memecah kesunyian. Tanpa menunggu,  abi meninggalkan umi sendiri. Umi merasa tubuhnya semakin lemah. Aliran darah terasa mengalir deras disana. Dijalan lahir sang adik. Kepalanya agak berdenyut. Berputar.

Sementara itu,  dibalik tirai. Abi menatap umi dengan penuh iba. Tak tega melihat keadaan umi yang semakin menurun. Pendarahan hebat kata bidan tadi. Namun masih bisa tampa tambah darah. Istrinya punya semangat yang kuat. Itu cukup membantu raganya untuk diajak berjuang. Di sisi lain, bayi mungilnya sedang dibersihkan. Dilap memakai handuk. Abi mendekat. Dipandangnya wajah mungil yang cantik itu. Ditatap dalam-dalam. Menengok ke arah bidan,  meminta persetujuan. Bidan itu mengangguk. Dibelainya kening anak manusia yang baru terlahir itu. Pelan. Dibelai. Dikecupnya.
"Pak.... maaf, bolehkah saya melanjutkan?" tersentak abi. Berat dilepaskannya dekapan itu. Kembali ia menghampiri umi.

"Mi...," kata-katanya tersendat. Umi menatapnya dengan senyum mengembang.
"Umi harus ikhlas,  umi harus menerimanya," diciumnya kening umi. Air mata yan telah lama ditahannya kini tumpah. Dipeluknya umi. Dibisikkan kata-kata itu di telinga istrinya.
"Adik meninggal Mi, Mutiara sudah dipanggil sama Allah. Kita harus kuat ya?" semakin erat pelukan itu.
"Ada apa Abi ini. Kan sudah tahu kalau adiknya perempuan. Gak apa-apa bi. Laki-laki atau perempuan sama saja," abi melonggarkan dekapannya. Tak mengerti apa yang disampaikan umi barusan
"Umi, apa yang kau dengar barusan. Kau salah mendengar atau...?" dipeluknya semakin erat wanita terkuat yang pernah ia tahu selama ini. Sekali lagi ia bisiki telinga istrinya.
"Dek Mutiara meninggal Mi. Setelah ini langsung dimakamkan. Umi ingin melihatnya dulu?"
Umi mendorong pelukan abi. Menatap dalam-dalam. Seakan mencari kebenaran dari kata-kata yang barusan didengarnya.
"Anakku meninggal? Oh Allah... apa lagi ini? Ujiankah ini?" mendadak semua terasa berat dan semakin berat. Hitam.

#30DWCjilid5
#Day10

Dwi Restanti
22.02
20/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar