(masih) Tetap Sendiri

Posting Komentar

Riung... riung... riung... alarm mobil itu berbunyi begitu keras. Meraung-raung meminta dibukakan jalan. Melaju bak angin, ingin disegerakan. Jalan sunyi tengah desa. Menggugah, membangunkan warga.
"Siapa? Siapakah yang di dalam sana?" kerumunan orang di pinggir sepanjang jalan yang dilalui.

Hanin seakan tahu. Ia pun keluar. Tepat di depannya, mobil abu-abu itu berhenti. Bingung. Tetiba banyak orang berdatangan. Menangis. Mengeluarkan keherannya. Menceritakan kisah yang tak disangka. Berkerumun. Meminta tempat paling depan. Melihat. Gadis mungil yang tak bergerak. Pun bernyawa. Abi keluar dari balik pintu. Menggendong dengan sehelai kain batik. Hanin tersenyum. Adiknya telah pulang.
"Orang-orang ingin tahu adikku. Aku sudah punya adik!" hatinya bersorak. Bangga. Berlari menggelayut di paha abinya. Senyumnya kian merekah. Sebersit kebanggaan di hatinya.
"Bi, adiknya cewek apa cowok? Mbak Hanin lihat dong Bi," ditariknya tangan abi. Memintanya berjongkok,  agar ia bisa melihat wajah adiknya. Kuat ditariknya lengan abi,  namun abi tak kunjung membungkukkan badan.
"Abi... mbak Hanin ingin lihat adik ini lho!" mengibaskan tangannya. Lalu bersedekap, menyemberutkan bibir. Tanda ia marah. Butiran air mata meleleh di pipi sang abi. Ia tak tahu bagaimana cara memberitahu putri sulungnya ini.

Segera ia menyerahkan Mutiara,  jasad bayi tak bernyawa kepada sang nenek. Buru-buru didekapnya Hanin. Ciumnya bergubi-tubi. Diseka pipinya. Menyejajarkan wajahnya dengan Hanin. Terdiam. Sedetik... dua detik... kembali dirangkul tubuh gadis mungil yang sedang bingung itu.
"Mbak... adik Mutiara sudah di surga sekarang. Adik Mutiara sudah meninggal," terpaku menanti reaksi. Hanin hanya diam. Bingung.
"Itu,  badannya dik Mutiara mau dimandikan,  terus dikubur...," berat lidahnya berucap. Tak sanggup rasanya menyampaikan. Tapi ini pesan uminya. Sebelum dibawa pulang. Umi berpesan kepada abi, Hanin harus diberitahu. Hanin harus ditunjukkan wajah adiknya jika dia mau. Hanin harus tahu adiknya sudah meninggal. Di surga.
"Mbak Hanin mau mencium adik?" tanya abi tanpa melepas dekapannya. Tak sanggup ia melihat wajah putri cantiknya yang bingung.
"Adik meninggal ya bi? Adik sudah di surga?" mencoba melepaskan dekapan abi.
"Mbak Hanin mau cium adik dulu bi," berjalan menuju tempat pembaringan Mutiara. Abi mengikuti di belakangnya. Semua mata tertuju pada Hanin. Ada rasa kasihan di mata-mata itu. Tak sedikit yang meneteskan air mata. Tak tahu apa yang bisa mereka lakukan.

Mutiara kecil itu tersenyum cantik,  meski wajahnya kebiruan namun bersih. Berbalut kain jarit motif parang. Diam. Tak bisa membalas ciuman mesra dari sang kakak. Hanin mundur. Dipegang eratnya paha abi. Dia hanya ingin melihat. Kain kafan putih telah membalut adiknya. Tak bisa diajak bermain lagi. Tak bisa dicium-cium lagi.
"Mbak Hanin, abi mengantar adik dulu ya. Mbak Hanin di rumah saja dengan mbah Uti. Gelap. Besok mbak Hanin harus sekolah kan?" kembali menggendong Mutiara untuk yang terakhir kali. Puluhan orang mengantarkannya. Ia tak ingin menunda lagi. Kasihan. Segera abi melangkah. Jengkalnya lebar dan cepat. Takbir dan sholawat teriring kepergian Mutiara.

Sementara, di rumah. Hanin tak mau segera tidur. Banyak orang di rumah membuatnya sulit memejamkan mata. Ia duduk di pangkuan Utinya. Dipandang meja bekas pembaringan adiknya. Diam.
"Mbah Ti, adik tadi pakai handuk merah ya? Itu lho handuknya mbak Hanin. Tapi gak apa-apa dipakai adik," ujarnya. Mbah Uti dan orang di sekitarnya diam. Menahan sesak. Hanya bisa mengusap rambut Hanin. Berharap dia segera bisa tidur. Mbah Uti tahu, Hanin begitu inginngya punya adik. Dua kali ia harus kehilangan adik. Tak bisa dibayangkannya,  apa yang ada di pikiran Hanin saat ini.
"Adik sudah di surga ya mbah Ti? Nanti kalau mbak Hanin mati,  juga di surga kan?  Ketemu dik Mutiara," membuat semakin deras aliran air mata mbah Uti. Pun orang-orang yang melayat. Mereka bisa merasakan betapa besar rasa ingin punya adik yang diharapkan Hanin. Mungkin mereka pun akan merasakan hal yang sama ketika kehilangan yang dinantikan sebanyak dua kali. Ya,  dua kali.

Pelan. Pelan sekali suara itu. Semakin pelan. Sampai akhirnya tak terdengar lagi suara Hanin yang bercerita. Seakan adiknya hanya pergi sementara saja. Ia terlelap dalam kecapekannya. Dalam rasa yang tak siapapun tahu. Hanya dirinya. Masih tetap ia sendiri. Tanpa saudara. Kakak tanpa adik.

#30DWCjilid5
#Day11

Dwi Restanti
14.56
21/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar