Kakak Adik Saja

1 komentar

"Kita jadi kakak adik aza ya!"

Pernah ngrasain kalimat ini? Hehehe...  Aku pernah. Dulu waktu masih muda,  jaman bangku SMA. Saat masih deg... deg... serrr... ketemu seseorang yang menurutku sangat sempurna, saat itu. Dia seangkatan denganku. Satu ekstrakurikuler. Mungkin karena sering ketemu,  sering bercakap,  berdiskusi ya, akhirnya bunga-bunga asmara itu tumbuh. Cinta karena terbiasa,  mungkin memang benar. Dia tidak ada yang istimewa, sama dengan yang lain. Akademik juga kalangan tengah, non akademik? Apalagi... bodynya biasa, rata-rata orang Indonesia. Kulit hitam manis, berpenampilan rapi,  dan yang buatku kepincut adalah stay cool man. Hehehe...

Sejak dia tahu, aku suka padanya. Wuih... coolnya tambah luar biasa. Jaim menurutku. Aku semakin senang menggodanya. Eit... jangan salah ya, bukan kugoda seperti yang kalian bayangkan! Eh...memangnya apa yang kalian pikirkan??? Hehehe... Bukan, kugoda dia dengan sering memandangnya,  lucu. Dia sudah salah tingkah. Tak tahu aku,  apa yang dirasakannya. Tapi jika dia di dekatku, dan aku pandangi pasti dia bingung. Buru-buru mengalihkan agar aku melihat yang lain. Tapi aku tetap saja memandangnya. Lalu tertawa melihat sikapnya.

Sampai suatu hari,  dia kecelakaan. Teman-temanku (yang juga temannya) mengajak menjenguk. Aku iyakan saja. Ingin lihat keadaannya. Sesampai di rumahnya,  eh ternyata dia bisa jalan-jalan. Hanya bengkak saja. Senang melihatnya baik-baik saja. Kami berlima ngobrol ngalor ngidul,  banyak hal. Sampai ketika teman-teman ijin ke kamar mandi (kok bersamaan ya???  Aku juga baru nyadar, setelah pulang dari rumahnya). Ayah ibunya mendekatiku. Aduh... ada apa ini. Grogi juga. Bertiga, aku, ayah dan ibunya. Tak kuduga apa yang mereka sampaikan. Mereka meminta aku untuk sabar, anaknya belum mau mikir pacaran katanya. Kwekkk... apa ini? Darimana beliau-beliau ini tahu? Alamak... malunya diriku. Pakai dinasehati, suruh belajar saja dulu persiapan masuk perguruan tinggi. Dibocori pula, si dia mau kuliah dimana. Hehehe... jangan ngiri ya?! Lampu hijau nih. Batinku. Senang bercampur malu. Tapi penasaran juga,  beliau dapat info dari siapa ya?

Ketika dia bilang "kita jadi kakak adik aza ya!" aku gak begitu galau atau sampek nangis bombay. Ortunya udah kasih bocoran. Tapi bukan berarti aku tidak kecewa. Hati ini tak enak,  tentu. Merasa bertepuk sebelah tangan, iya. Tapi tak tahu ya,  aku kok gak melow gitu. Cuma, kata-katanya itu tidak kujawab. Iya atau tidak. Aku hanya diam,  lalu pergi meninggalkannya. Jangan dikira  dia akan nyusul ya! Hehehe... Kakaknya malah yang mendatangiku, menenangkan hatiku yang pura-pura baik-baik saja. Kakaknya ini satu ekstra juga dengan kami,  beda angkatan tentunya. Dia lebih care sama cewek. Menghiburku. Cowok juga. Hehehe... jangan sampai aku kegoda untuk suka padanya.

Dia minta maaf,  karena ceritanya ke ayah ibu, akhirnya adiknya mengambil sikap seperti ini. Lebih memilih jadi 'adik kakak'. Coba,  kalau dia tidak cerita,  pasti adiknya tidak diminta ayah ibu untuk memberi kepastian. Pasti lebih enak kalau tidak diucapkan. Tanpa status. Tanpa kejelasan. Pasti akan lain ceritanya. Oh... ternyata kakaknya yang cerita. Ups... perhatian banget. Padahal aku gak bilang,  seingatku hanya beberapa teman cewek yang tahu kalau aku suka adiknya? Ah... Coba kalau aku jatuh cintanya pada kakaknya ini... Hehehe... ngaco!

Cerita masa SMA yang selalu indah untuk diceritakan

Dwi Restanti
16.08
15/4/17

#30DWCjilid5
#Day5

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar