Ibu Ikhlas, Anakku!

Posting Komentar

Mom, sudah menata hati saat anak jelang ujian? Tentu sudah dong ya! Apalagi ini sudah mepet waktunya. Yang anaknya jenjang menengah atas malah udah selesai ya? Sukses untuk hasilnya mom. Semoga mendapatkan yang terbaik untuk ananda.

Nilai bukanlah tujuan utama menyekolahkan anak,  jadi kalau nanti yang keluar nilainya belum sesuai harapan jangan putus asa ya! Dunia tak selebar daun kelor, ibarat pepatah seperti itu. Jangan hanya karena anak nilai ujiannya tidak sesuai ekspetasi,  mom jadi minder dan gak mau keluar dari tempurungnya.

Mom, kalau dilihat-lihat. Anak kadang sangat berbalik 180 derajat menjelang ujian. Iya gak? Amati deh,  mom. Beda gak? Amati deh,  seminggu saja. Pasti ada yang beda dari hari biasanya. Iya gak?  Ini saya alami sendiri mom. Murid-murid saya yang luar biasa hebat saat menjelang ujian. Eh... mantan murid maksudnya. Setelah hampir 12 tahun pernah menemani mereka menghadapi saat-saat ujian, banyak cerita menarik dari mereka, khususnya jelang ujian.

Ada salah satu murid,  yang menurut kacamata kami, gurunya sudah angkat tangan. Karena luar biasa memang, luar biasa sulit menolongnya meski diprivat sekalipun. Anak kelas 6 SD, penjumlahan dan pengurangan masih membilang berurutan. Contohnya 5 ditambah 6, murid ini mengacungkan 6 jarinya kemudian menghitung setelah lima,  enam, tujuh,  delapan, sembilan, sepuluh, sebelas. Nah..., bisa dibayangkan dia harus mengerjakan 40 soal dalam waktu 2 jam. Dan,  soalnya dengan bilangan mencapai ribuan. Pusing. Gurunya. Iya, gurunya yang pusing memikirkan kira-kira bisa tidak.

Nah, ajaibnya saat satu bulan menjelang ujian, ini murid jadi rajin mengerjakan soal,  walaupun masih tetap banyak yang salah. Tapi semangatnya luar biasa. Tidak lagi mengeluh soalnya sulit atau tidak bisa. Pokoknya dikerjakan. Buka-buka buku kumpulan rumus matematika dan catatan. Dan,  yang paling super, puasa senin kamis, dhuha,  dan sholat tahajudnya gak pernah bolong kecuali udzur yang mendesak. Luar biasa! Mamanya pun heran dengan perubahan sikap anaknya.

Setelah diselidiki, ternyata rasa malu dan kepepetlah yang membuatnya berubah. Malu kalau nanti nilainya jelek. Ingin membuat mamanya senang. Titik. Tidak ada alasan lain. Apa yang menyebabkan dia sekarang merasa malu?

Training motivasi. Ini penyebabnya. Jadi,  satu bulan sebelum ujian,  di sekolahnya mendatangkan seorang psikolog yang sekaligus seorang motivator. Frekuensi yang disebarkannya sangat berdampak. Saat itu,  orang tua pun turut diundang. Para orang tua dimohon untuk ikhlas dengan apa pun yang nanti diperoleh anaknya. Mengingat hasil tersebut adalah hasil penuh perjuangan. Anak pun dimotivasi untuk mempersembahkan yang terbaik dari mereka untuk ayah bundanya.

Efeknya? Seperti yang saya saksikan, murid tersebut bisa tembus nilai 8,5 dari nilai tertinggi 10. Masya Allah... Kekuatan doa dan keiklhasan orang tua menerima apapun keadaan anak ternyata mampu membukakan hati anaknya. Membimbing ke jalan yang terbaik.

Mom,  juga ingin kan? Mari sama-sama bilang ke anak-anak kita "Aku ikhlas, anakku. Apapun keadaanmu," insya Allah anak kita akan melakukan yang terbaik darinya untuk kita.

Mari jadi ibu yang selalu dekat dengan anak.
Bagaimana, kapan,  dan dimanapun.

Salam supermom!

#30DWCjilid5
#Day17

Dwi Restanti
18.38
27/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar