Haninku (3)

Posting Komentar

Kisah sebelumnya : Hanin duduk bersamaku, untuk membicarakan tentang bros pemberiannya.

Hanin mengurungkan niatnya pergi ke rumah Arina, temannya ketika di rumah. Tetangga. Ia duduk di sampingku.Ia menunduk,  tak berani menatapku seperti biasanya. Dan,  aku tahu jika ia bersikap seperti ini pasti ada yang disembunyikan. Aku sangat keeras dalam menerapkan kejujuran. Aku tak ingin anakku menutupi sesuatu dariku. Tapi mungkin caraku yang salah. Caraku memberitahunya,  caraku mengajarin kejujuran, caraku memberikan peringatan. Semua karena salahku.
"Mbak, umi senang diberi bros. Terima kasih ya... " kudekap tubuhnya. Kuingin memberikan kehangatanku sebagai seorang ibu. Kasih sayang yang selama hampir 7 tahun ini sempat terduakan. Kuingin Hanin tahu,  aku sangat sayang padanya. Sanvat memperhatikannya,  sangat ingin menjadi panutan yang baik baginya. Sangat ingin dia tumbuh berkembang dengan akhlak yang menjadi penolongku kelak. Pelan kulepas pelukan ini, Hanin seakan tahu apa yang kurasakan. Sebutir air mata jatuh di pipinya. Isaknya mulai kudengar berat. Ia, tak mau melepas pelukanku.
"Maafkan mbak Hanin,  Mi," ucapnya terbata. Kutunggu.
"Mbak Hanin minta maaf un apa?" kusapu pipinya dengan jemari ini. Kutatap wajah polosnya. Semakin kuat isaknya,  sedu sedan.
"Tadi,  mbak Hanin menemukan uang. Lalu tak belikan bros untuk Umi,"
"Dimana?"
"Di kelas, uangnya mas Fatah. Maaf. Maaf ya Mi. Mbak Hanin janji,  tidak akan mengulangi lagi."
Oh... anakku sayang,  Haninku. Maafkan umimu ini. Maafkan juga umi sudah berprasangka tidak-tidak padamu. Maafkan nak....
"Berapa mbak?," meski air mata ingin segera jatuh namun kutahan, aku harus tetap konsisten dengan kejujuran. Meski Hanin melakukan hal itu untuk memberikan bros untukku. Aku harus bisa menahan perasaanku.
"Empat ribu Mi, ini masih ada seribu," diambilnya uang kertas seribuan kucel dari saku celananya.
""Harusnya apa yang dilakukan mbak Hanin kalau menemukan barang orang lain?"
"Mengembalikan Mi. Maaf ya Mi.  Mbak Hanin janji tidak akan mengulangi, " pintanya
"Mengapa mbak Hanin tidak mengembalikan?" tanyaku lagi,  meski ia sudah merasa bersalah dan meminta maaf. Aku ingin tahu alasannya. Mengapa ia melakukan hal ini. Apa sebabnya.
"Mbak Hanin ingin belikan Umi bros,  Umi belum punya bros warna biru" ceritanya. Deg... Tuhan,  anakku. Anakku. Apa yang bisa kukatakan. Aku harus bagaiamana. Begitu perhatiannya dia padaku. Sampai-sampai dia tahu apa-apa yang belum kupunya. Anakku. Hanin,  anak yang selama ini kurasa hanya mau dekat dengan abinya saja. Maafkan umi nak....
"Umi sayang mbak Hanin. Tapi besok-besok lagi, kalau menemukan apa-apa beritahukan bu guru atau umi ya mbak. Kasihan yang punya pasti nyari. Itu kan bukan punya kita" kucoba menjelaskan padanya. Isaknya mulai mereda. Sedikit senyuman terhias di wajahnya. Kerengkuh pundaknya,  kudekap mesra. Umi bangga padamu,  nak. Keras memang didikan umi dan abimu ini. Tapi percayalah, semua itu demi kebaikanmu. Mungkin tidak saat ini. Tapi yakinlah suatu saat nanti kau akan mengerti.
"Iya Mi," senyum ceria lagi.
"Sekarang, boleh deh main ke rumah mbak Arina. Sholat dulu ya... " kukecup kedua pipi dan keningnya.
Hanin bergegas lari ke kamar mandi dengan keceriaan semula. Keceriaan seorang ank 7 tahun yang takut saat berbuat salah. Ketakutan yang sudah sangat dihafal uminya. Sebuah alarm hati yang tertanam di hatinya.

#30DWCjilid5
#Day3

Dwi Restanti
8.13
13/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar