Haninku (2)

Posting Komentar

Ah ...  kepalaku semakin berdenyut. Bayangan Hanin hampir mencuri di minimarket itu muncul lagi. Bayangan saat abinya melihat Hanin mengambil permen karet lalu memasukkan ke dalam saku roknya. Tuhan ... semoga tidak lagi. Hanin tidak mencuri, Hanin tidak mengambil. Nafasku semakin memburu. Aku ingin segera pulang. Kapankah kegiatan ini usai?

Sorak-sorai penonton saat pengumuman hasil lomba membuat suasana sekolah menjadi penuh semangat. Dag... dig... dug... mungkin begitu yang dirasakan peserta lomba menyanyi dan mewarnai. Namun,  tidak demikian kurasa bagi Hanin. Buktinya,  dia santai dan tetap asyik bermain bersama teman-temannya.

Pukul 11.00,  kegiatan market day diakhiri dengan pengumuman hasil perlombaan. Tak lagi kuperhatikan dewan juri yang mengutarakan hasil kerjanya.
"Mbak Hanin, pulang dulu yuk?" ajakku padanya setelah yakin tidak ada kegiatan lagi. Suasana juga agak mendung,  aku takut kami akan kehujanan karena lupa tidak membawa jas hujan.
"Umi tadi lupa tidak bawa jas hujan mbak,  daripada kehujanan nanti," tambahku. Hanin berhenti sejenak,  memandangku. Seakan menolak permintaanku. Tapi bergegas ia merapikan mainan dan berpamitan ke teman-temannya.
"Ayo Mi," setelah rapi semua barangnya masuk tas punggung.
"Tapi, mbak Hanin bilang ibu guru dulu ya?" pintanya. Ah...  Hanin, dirimu sangat mengerti apa yang harus kamu lakukan. Umi bangga padamu. Di usia yang baru menginjak 7 tahun,  kau sudah begitu dewasa. Mengerti apa yang umi mau. Saat anak yang lain masih minta dimanjakan. Saat mereka makan minta disuapi,  kau sudah bisa makan sendiri. Yang lain tidur minta ditemani,  kau sudah berani tidur di kamarmu sendiri. Bahkan kau sudah tahu kapan harus mandi,  kapan harus mengaji,  dan kapan harus pergi tidur. Kau sangat mandiri, menurutku.
"Ayo Mi,  kita pulang!" seru Hanin,  membuyarkan lamunanku.
"Iya, sudah pamit ke bu guru?" sambil tersenyum kubelai jilbabnya.
"Sudah Mi." Hanin berlari menuju ke motor butut yang kuparkir dekat mobil-mobil mewah yang berjajar rapi. Sekolah kelas elite, jadi ya lumrah banyak yang punya mobil kelas atas.

20 menit perjalanan yang biasanya kutempuh,  kali ini terasa lama. Kutelusuri aspal bergelombang yang mulai rusak karena ulah ulah truk pengangkut pasir. Kanan kiri tak lagi sehijau dulu, kini banyak pencakar lang it. Kanan kiri terhalang tembok tinggi. Masuk ke desaku pun tak jauh beda. Lahan persawahan mulai berkurang terutama tepi jalan raya. Siiiitttt ...  akhirnya sampai juga.  Rumah yang tak berubah seingatku,  semenjak aku kecil,  sampai aku punya anak kecil tetap seperti ini. Rumah joglo tanpa penyekat, luas sekali. Hanya bedanya dulu berlantai tanah,  sekarang sudah memkai ubin.
"Mbak, sini duduk sama umi," pintaku setelah Hanin selesai berganti baju.
"Mbak Hanin mau main ke rumah mbak Arina Mi," protesnya.
"Sebentar saja nduk*" ah ...  tidak tega, waktunya Hanin bermain dengan teman-teman di lingkungan rumah,  setelah pulang sekolah. Sekitar 2 ja
"Begini mbak Hanin, umi senang sekali mbak Hanin beri bros," kulihat ekspresi wajahnya berubah,  tidak lagi cemberut.  Tersenyum. Puas mungkin karena pemberiannya disukai.
"Tapi ...  umi juga bingung ...  "

#30DWCjilid5
#Day2

Dwi Restanti
23.27
12/4/17

Restanti
Restanti
Hi, saya Restanti. Ibubloger nubi dan content writer. Bisa jalin kerjasama via dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar