Di Sudut Kamar

Posting Komentar

Diam. Sendiri. Pikirannya seakan melayang. Jauh, entah kemana. Di sudut kamar, di pojok kasur. Menelungkup. Menerawang di balik tembok. Hanin seakan kehilangan semangat. Kadang ia bicara sendiri. Mendongeng kepada teddy bearnya, bercakap seakan hidup.
"Adik, ayo mainan masak-masakan ya! Mbak Hanin yang jualan, dik Mutiara yang beli ya...," didudukkannya boneka coklat kecil ke dinding. Mengeluarkan semua peralatan masaknya. Menyalakan kompor, memasak air,  lalu menyeduh 2 cangkir teh. Bersulang.
"Mau makan apa dik!?" mengambil sebuah piring dan menyiapkan makanan. Menyuapi adiknya dengan sendok kecil terbuat dari plastik. Pelan, digendong penuh mesra. Mulutnya sesekali dilap dengan tisu. Tersenyum.

"Mbak...," membuka tirai pintu. Didapatinya sedang memasukkan sesendok makanan ke mulut boneka beruang. Hanin menoleh dan tersenyum.
"Adik makan bi. Abi mau? Mbak Hanin ambilkan ya!" cekatan mengambil piring, meletakkn makanan. Diberikannya pada abi yang terpatung di dekat pintu.
"Duduk sini bi,  sama adik," menggandeng tangan besar itu mendekat pada sosok adik yang dibicarakannya. Abi diam. Ditarik napas panjangnya. Seakan ingin menghembuskan beban berat yang menyumbat tenggorokan. Lelehan air mata seperti air bah yang menerjang kelopaknya. Deras.
"Allah,  kuatkanlah anakku ini. Berilah kesabaran. Bimbing kami untuk merawatnya ya Allah...," batinnya meronta. Menangis lebih keras dari air matanya. Ia tak ingin lemah. Ia harus kuat. Anaknya membutuhkannya. Hanin.

"Mbak, abi mau ke rumah sakit dulu. Mbak Hanin bobok dengan mbah Uti ya," sekejap Hanin berhenti menyuap. Seakan mencoba mengingat sesuatu. Diletakkannya piring dan boneka bear itu. Mendekat, duduk di pangkuan abi. Memegang erat baju abinya. Memeluk.
"Mbak Hanin bobok sama abi ya?" rengeknya. Tak mau melepas pelukannya.
"Ehm... baiklah. Tapi segera bobok ya? Sini abi peluk sambil tiduran," diangkatnya gadis mungil itu ke tengah ranjang. Dibaringkan di sampingnya. Pelan dibelai rambut dan keningnya. Kecupan hangat tak lupa mendarat di kedua pipi. Sayup bola matanya menceritakan betapa gadis kecil ini dalam rasa yang sangat kehilangan.
"Berdoa yuk," dituntunnya berdoa sebelum tidur. Dilanjutkan dengan beberapa surat pendek yang ia hafal.

"Adik Mutiara sudah di surga ya mbak, mbak Hanin sama umi dan abi disini. Tenang ya...," dikecup kening Hanin. Lama. Tak terasa air mata itu kembali mengalir. Cepat ia usap. Ditinggalkannya Hanin bersama mbah Uti menemani. Abi segera ke rumah sakit. Menemani umi.

Pelan digesernya pintu kaca tempat istrinya berbaring. Kakak iparnya terjaga. Rupanya belum tidur. Selama ditinggalnya,  kakak iparlah yang menemani umi.
"Tadi dia pingsan 2 kali, pendarahannya belum berhenti. Maksa ke kamar mandi, ternyata belum kuat," sambil berkemas, kakak iparnya menjelaskan pelan-pelan. Takut membangunkan umi yang baru saja bisa terlelap setelah beberapa kali mengeluh sakit. Dokter hanya memberikan obat anti nyeri, karena pendarahannya masih dianggap batas normal. Mungkin tekanan batin yang menyebabkan umi lemah. Sampai berkali-kali pingsan.
"Terima kasih kak,  kakak berani pulang sendiri?" melihat jarum jam yang menunjuk angka 10. Dingin mulai menyergap. Diselimutkannya kain pada tubuh umi. Abi yakin umi kedinginan.
"Iya,  berani. Kamu jaga baik-baik ya, kakak pulang dulu. Assalamualaikum," menutup pintu pelan sekali. Seakan tak ingin suara gesekan pintu berderit. Dingin dan sendu. Hawa rumah sakit.

"Mi,  segera sehat ya. Hanin menunggu umi, " dibukanya al quran. Membaca, pelan. Sampai pada titik terendahnya,  terlelap.

#30DWCjilid5
#Day12

Dwi Restanti
21.20
22/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar