Demi Siapa

Posting Komentar

Capeknya luar biasa hari ini.  Harus menyelesaikan tugas bendahara kegiatan dengan dana bantuan pemerintah sebesar 300juta, ya 300juta. Uang yang cukup besar untuk  ukuranku yang bergaji 1,7 juta.Setelah 6 hari sebelumnya  harus berpanas-panas ria di bumi perkemahan untuk mengikuti diklat kepembinaan,  lagi-lagi tugas kerjaan. Aku kerja di sebuah lembaga pendidikan swasta favorit di kota Kunjang ini. Sebelum bekerja disini, aku pernah mengabdi di sekolah dasar milik pemerintah selama 4 tahunan, kemudian atas ijin ibu dan calon suamiku aku hijrah ke lembaga bonafit ini dengan banyak pertimbangan. Salah satunya agar aku bisa mengasah kemampuan mentransfer ilmu secara utuh, bukan hanya mencapai target nilai tuntutan wali murid. Prinsip seorang guru pemula....

Sesampainya di kamar ukuran 4x6 meter, kudapati suamiku bersandar sambil membaca buku tentang penanganan hama padi. Syakila, buah cinta kami berbaring sambil bermain bongkar pasang.Kuletakkan ransel berat berisi laptop dan berkas kerjaan di atas meja, kemudian mandi dan bergegas sholat magrib. Telat. Lagi-lagi aku terlambat.Segera kulipat mukena lalu  bersandar di samping abinya Syakila. "Ah... akhirnya. Kapan bisa hidup santai gitu ya bi?" sambil bergelayut di pundak suami. Abi Syakila hanya mengusap rambutku saja,  tanpa berkata apa-apa.  Sesungging senyum menghias raut wajahnya yang juga terlihat capek setelah seharian berkutat dengan mesin penggiling sambal di pasar kecamatan. Wajah inilah yang bisa mengisi energiku untuk  kembali semangat. Seorang  lelaki yang menikahiku 5 tahun silam. Tegas namun selalu ada untuk anak dan istrinya.
"Laporannya  sudah beres mi?" tanya abi
"Jangan dibahas bi,  sumpek umi mikir laporan.  Kerja sendiri,  eh....berdua ding.  Sama bu Dinda. Yang lainnya cuma main tahu beres maunya," kuhela nafas yang tiba-tiba terasa sesak.
"Deadlinenya kapan?"
"Akhir tahun harus sudah kirim kata ketua,  tapi apa ya mungkin kalau mobat-mabit sendiri sama bu Dinda saja?" tanyaku,  yang pasti abi juga tidak tahu jawabannya.
"Pelan-pelan saja,  itu uang negara lho.  Jangan sampai terjadi kesalahan pelaporan.  Uang orang banyak.  Pertanggungjawabannya besar," pesan abi.
"Iya bi," kemudian kami lanjutkan sholat isya setelah  mendengar  adzan. Syakila sudah tertidur lelap sehingga  tidak kami bangunkan. Kasihan,  alasan yang seharusnya kami hilangkan demi kebaikan Syakila.  Namun berat kalau  harus membangunkan anak 5 tahun yang sudah  tertidur  lelap seperti itu.

Mentari pagi menghangatkan tubuhku, terasa segar setelah semalaman mengetik laporan yang tak kunjung usai. Hawa pagi ini sungguh enak, cerah. Matahari membelai mesra menyejukkan mata. Menghapus lelah terbalut malam. Syakila bergelayut manja, meluapkan rasa seakan lama tak jumpa. Sesaat. Keseruan pagi seorang ibu bekerja dengan aktivitas mengurus anak 5 tahun memporakkan kelembutan sang surya. Bergegas, aku tak punya banyak waktu untuk sekedar menyuapi Syakila. Dia seakan mengerti, menjauh dariku dan menuju neneknya. Ibuku. Kasihan juga,  tapi... ah,  sudahlah.

Bu Dinda menghampiriku, yang baru turun dari sepeda motor tahun 2000an. Motor tua diantara motor-motor guru yang lain.
"Bu,  ini kita harus mengulang meminta tanda tangan semua peserta?" bu Dinda menghela napas panjang sambil melihat tumpukan LPJ yang tinggi.  Hampir 100 orang yang harus dimintai tanda tangan,  dan belum satu pun hadir memenuhi undangan dari panitia.
"Sepertinya lama bu,  kalau seperti ini.  Bagaimana  kalau kita menanti mereka saat menjemput anak-anak.  Tapi...," bu Dinda seperti ragu meneruskan kalimatnya.
"Tapi kenapa bu?" tanyaku masih terus menghadap ke laptop mengetik laporan keuangan yang belum juga selesai.
"Bu Amin hafal tidak wajah satu persatu walimurid yang harus dimintai tanda tangan?"  sambil mengernyitkan dahi seakan berpiki keras.
"Hahaha... Bu... Bu... paling saya hafal ya yang sudah pernah jadi wali kelasnya.  Tapi kebanyakan mereka sudah lulus," jawabku sambil tertawa. Bu Dinda pun tertawa.  Entah apa yang kami tertawakan.  Yang pasti,  keadaan yang membuat kami butuh tertawa meski dipaksakan. Kembali kami mengerjakan tugas yang entah kapan akan selesai. Bukan tidak selesai,  pasti selesai. Hanya butuh waktu setidaknya satu bulan,  tidak seperti sekarang ini.  Dua minggu harus jadi. Aku sendiri tak berani menarget kerjasama dengan bu Dinda,  kondisinya yang sering sakit, tak bisa untuk diajak berlari menyelesaikan tugas. Demikian pula aku. Setelah keguguran seminggu yang lalu membuat semangat dan kondisi tubuh yang belum kembali fit. Aku jadi ingat perkataan teman sma, "sesibuk apapun kamu, tetap utamakan keluarga. Karena hanya keluarga yang akan siap menolong dalam kondisi apapun," ini benar. Sedekat apapun aku dengan sahabat,  seloyal apapun aku terhadap kerjaan tak akan mereka mengerti apa dan bagaimana kondisi tubuh maupun psikisku. Mereka menuntut loyal tanpa batas,  tapi tak menganggapku ada saat aku tak memberikan apa yang menguntungkan. "Ah....sudahlah. Jangan mengeluh Aminah. Bukankah,  kamu sendiri yang memilih pekerjaan ini"  kukuatkan diri.
"Bu Amin,  tidak apa - apa?" pertanyaan bu Dinda membuyarkan lamunan
"Eh... hehehe. Tidak apa-apa bu. Jadinya bagaimana? Minta satu-satu? Oke,  siap!" berusaha semangat. Satu dua orang wali murid yang kami temui,  hanya mereka yang menjadi peserta workshop yang dimintai tanda tangan. Mereka lumayan menggerutu juga, satu orang harus tanda tangan 12 halaman. Dan,  mereka sudah pernah menandatangani hal yang sama sebelumnya. Memang,  kesalahan ada di kami,  panitia. Kesalahan kecil yang sebenarnya bisa diakali. Tapi perfeksionislah yang memang harus dimenangkan. Ya,  hanya karena salah ukuran kertas,  kami harus mengulangnya dari nol. HVS yang harus diubah menjadi A4.

"Sudah selesai bu,  laporan workshopnya?"
" Ya belum to bu,  wong seminar tanda tangannya begitu banyak. Banyak yang masih kosong" jawabku malas. Ketua panitia ini enak sekali bertanyanya. Maafkan kalau jawabanku ketus. Siapa suruh mengubah format laporan, jadi tidak selesai-selesai. Coba kalau pertanyaannya sedikit diubah jadi "Bisa dibantu apa bu,  biar cepat selesai laporannya?"  tentu jawabku akan manis.
"Lho, ya minta bantuan wali kelas yang lain to. Biar cepat selesainya" sarannya.
"Lha... saya apa ya berani bu,  minta tolong teman-teman"
"Memangnya kenapa, kok tidak berani"
"Yo,  ibu yang meminta tolong selaku ketua panitia. Kalau saya yang minta tolong ya angin lalu, bu.  Siapa saya ini. Teman-teman masih repot dengan persiapan penerimaan rapor" sangkalku. Padahal aku sudah pernah minta tolong,  tapi tidak direspon baik. Malah pernah, aku dengar beberapa teman iri dengan jabatan bendahara ini. Memangnya aku suka? Kalau boleh memilih,  tentu aku lebih suka jadi pesertanya saja.  Tidak ribet, tinggal ikut jadwal. Tidak mengatur jadwal,  keuangan,  dan ribetnya kalau memakai uang negara yaitu laporannya. Sudah tidak mau membantu masih juga ngribeti.
"Oh... Iya bu. Ada teman yang usul, uang transport untuk teman-teman kalau bisa jangan dipotong. Kan sudah pulang melebihi hari biasanya,  hari minggu juga masuk.  Masak yang peserta dari luar diterimakan utuh yang dari kita sendiri malah hanya terima 75%. Begitu usulnya" kujelaskan usulan teman-teman yang keberatan dengan rencana ketua panitia hanya memberikan 75% uang transportasi  bagi peserta workshop dari dalam lembaga sendiri , dengan alasan 25% digunakan untuk nanti kegiatan family gathering keluarga besar lembaga.
"Lho... kemarin waktu rapat bilang setuju,  tidak ada yang usul atau menolak.  Sekarang kok berubah?" dengan nada tinggi pertanda emosi ketua mulai naik. Aku dan bu Dinda hanya diam.
"Coba sebutkan,  siapa yang usul? Itu berarti orangnya tidak ngerti.  Uangnya tidak buat saya atau lembaga. Uangnya dipakai untuk family gathering.  Dipakai bersama," bu Hajar,  ketua panitia kegiatan workshop yang sekaligus kepala sekolah darahnya meninggi. Nafanya menderu,  tersengal seakan habis lari berkilo-kilo.
"Ya,  melihatnya dibandingkan peserta luar bu.  Mereka cuma datang 3 kali pertemuan.  Pagi sampai siang.  Uang transportasinya terima utuh. Sementara kita,  yang dari dalam datangnya 10 pertemuan dan full dari pagi sampai pukul lima bu," sedikit kujelaskan. Memang kurasa tidak pas bila dibandingkan dengan peserta dari luar.
"Berarti belum ngerti!" gebraknya sambil memukul meja. Bu Dinda hanya diam,  tidak berani berkutik apapun.

Bersambung

Dwi Restanti
12.52
14/4/17

#30DWCjilid5
#Day4

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar