Bos Hanin

Posting Komentar

"Haniiin...!!" bunda Erna melambaikan tangan ke arah gerombolan anak-anak yang sedang berayun-ayun di ranting pohon jambu depan kelas. Bergegas ia menghampiri mereka. Hanin, Nesha, Fatah, Fiq, dan Naf yang dituju hanya tertawa cekikikan. Bukan. Bukan menertawakan bunda Erna ,  tapi melepaskan keseruan mereka melihat Hanin,  anak perempuan yang berayun dengan kedua tangannya di ranting dengan ketinggian 1,5 meter dari tanah. Dan... hups... melompat begitu saja. Terguling-guling di lantai berpaving yang penuh debu.
"Bunda kan sudah bilang, jangan berayun-ayun di ranting yang tinggi Nak!," mengulurkan tangannya membantu Hanin berdiri. Bukannya menangis, Hanin malah tertawa.
"Hahaha... enak lho! Siapa yang berani seperti aku tadi?" tantangnya, mengibaskan baju yang berdebu.
"Eh... lha kok malah nyuruh teman-teman," mendelik ke arah anak perempuan yang paling tinggi diantara yang lain. Hanin tersenyum meringis lalu berlari ke area balok. Sentra bermain menyusun potongan-potongan kayu. Bunda Erna dibiarkannya mendelik  sendiri. Nesha menyusul Hanin, duduk di dekat Hanin. Pun yang lain. Mengerumuni tumpukan balok yang disusun. Bunda Erna hanya mengelus dada. Tak sekali dua kali ia harus menahan nafas melihat polah anak didiknya ini. Anak-anak yang luar biasa. Aktif. Ada saja caranya bermain. Tak kenal lelah. Apalagi jika sang 'bos' sudah beraksi. Sontak hampir semua anak mengekor. Meniru apa saja yang dilakukan sang bos. Hanin. Umurnya hampir sama dengan teman-temannya, tapi tak tahu apa yang membuatnya punya power di hadapan yang lain. Apapun yang dia lakukan, pasti akan ditiru. Dia tak suka bermain boneka layaknya anak perempuan, cenderung bermain dengan anak laki-laki. Banyak anak perempuan yang tidak suka bermain dengannya,  hanya Nesha yang mampu bertahan lama. Nesha seperti anak ayam,  yang selalu ngikut kemanapun sang induk pergi. Apa yang dilakukan Hanin,  pasti Nesha melakukan juga. Jangankan Nesha. Fatah,  Fiq,  dan Naf pun demikian. Mengekor.

Pernah suatu hari, ketika umi Hanin menjemput. Naf bertanya "Bos Hanin pulang?" reflek, umi langsung menoleh ke arah suara yang memanggil anaknya dengan sebutan 'bos'. Mengeryitkan mata penuh tanya.
"Iya, besok main lagi ya," seru Hanin sambil naik ke motor. Tak diperhatikannya umi yang penuh tanda tanya.
"Siap bos!" Naf menimpali. Semakin geleng-geleng umi Hanin.
"Ah... anakku. Kenapa sampai dipanggil bos segala?" otaknya berputar menemukan jawaban.
"Ayo,  Mi" membuyarkan keruwetan otak uminya.
"Mbak,  kok teman-teman memanggil 'bos Hanin'?" menyalakan power on motor, bersiap menekan tombol double starter motor tua kelahiran tahun 2000an.Bremmm... perlahan dimasukkannya gigi pertama dan menarik gas. Motor tua itu selalu menemani kemana pun umi Hanin pergi. Berangkat mengajar sambil membonceng anaknya di bagian depan, menjemput di siang harinya,  dan pulang mengajar sekitar pukul 15an.
"Gak tahu Mi. Mbak Hanin gak minta kok. Teman-teman sendiri yang manggil gitu," tak berani ia menatap mata uminya.
"Masak?" uminya seakan tak percaya.
"Pasti ada apa-apa ini. Besok perlu bertanya ke bundanya," batin umi. Bunda adalah ustadzah yang mengajar di sekolah. Agar terasa ibu sendiri,  begitu dulu ketika ditanya mengapa dipanggil 'bunda'.

Sepanjang perjalanan pulang, umi Hanin tak lepas dari kata' bos Hanin',  angannya menerawang membayangkan hal-hal yang memungkinkan menjadi penyebab panggilan itu. Terhenyak dia, teringat cerita mamanya Fiq.
"Jangan, semoga hanya anganku saja," digeleng-geleng kepalanya, seakan ingin merontokkan pikiran dan perkiraan buruk itu. Seminggu lalu,  mama Fiq bercerita tentang kekonyolan anak-anak kelas sebelah. Kelas yang berbeda dengan anaknya tapi satu angkatan. Kelas B2. Ada yang dijuluki 'Ratu Belv". Satu kelas memanggil anak itu' Ratu Belv" dan menurut cerita mama Fiq, teman-temannya rela menjabarkan telapak tangan saat si ratu Belv jalan. Ibarat red carpet begitu.
"Oh... tidak. Hanin tidak seperti itu! " semakin berdenyut kening umi Hanin.
" Aku harus segera cari informasi. Harus!" tekadnya kuat. Sampai akhirnya dia sadar, hampir saja menerobos lampu merah.
"Umi ini, merah lho!" menunjuk lampu traffic light yang berada tepat di atas kepala. Kelewat garis. Umi Hanin celingukan, melihat ke belakang. Meringis.
"Permisi mas, motor saya mundur sedikit ya? Bisa diberi tempat sedikit saja," susah payah memundurkan motornya.
"Daripada kena tilang mas, maaf ya?" memelas pada pemuda yang tepat di belakangnya. Pemuda yang berseragam kantoran itu tersenyum, sedikit memundurkan motor agar tak tertabrak motor tua yang pengemudinya ibu muda dengan gamis lebar.
"O... Umi!" menepuk lengan uminya. Yang ditepuk nyengir kuda.
"Hijau Mi...!" segera melesat motor butut dengan gigi masuk 1. Motor tahun 2000an memang masih banyak yang belum matic,  jadi harus memasukkan persneling antara 1- 4 sesuai kebutuhan. Dan... saat ini sudah jarang yang memakai motor model ini. Matic merajai jalan.

20 menit, motor memasuki gerbang pagar berbahan stainles steel. Hanin turun lalu mendorong pagar, motor uminya bisa masuk.
"Assalamualaikum...!" teriaknya sambil berlari menuju rak sepatu. Melepas dan segera menuju kulkas. Dikeluarkannya sebotol air dingin. Gleg... gleg... diteguknya langsung dari botol. Sementara di belakangnya sudah berdiri umi. Memperhatikan anaknya yang minum langsung dari botol tanpa gelas,  berdiri pula. Disedekapkan kedua tangannya, memandang gemas Hanin.
"Ups... ya ampun Umi," Hanin memutar tubuhnya dan tepat di depannya umi yang siap-siap mencubit pipinya.
"Mbak Hanin kaget,  tauuu!" gerutu Hanin.
"Masak diajari gitu ya mbak?" mencubit gemes pipi anaknya.
"Umi panggil 'sapi Hanin'  ya?!!" menghela nafas melihat kelakuan Hanin.
"Hehehe..., " tertawa sambil melepas tangan uminya lalu menuju kamar untuk berganti baju.
"Ada apa Mi?" tiba-tiba seorang laki-laki 35 tahunan berdiri di samping umi Hanin. Lelaki berbadan kurus dan agak bungkuk. Berambut sebahu, berjenggot, berkaca mata tersenyum melihat istrinya dicuekin putri kesayangan mereka.
"Ah... Abi. Mengagetkan Umi saja," memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Hehehe... maaf Mi. Habisnya lucu lihat Umi dicuekin gitu," terkekeh lalu meminum kopi pahit kesukaannya. Menyeruput dengan nikmat. Seakan kecantikan istrinya tak berarti apa-apa dibanding secangkir kopi hitam pahit yang sejak pagi dibuatkan umi Hanin.
"Bi... ada 'bos' di rumah ini," menggeser tempat suaminya agar mau berbagi kursi. Abi terhenti menyeruput kopinya. Mulut cangkir masih menempel di bibir, namun tak segera dituangnya. Matanya mengarah ke umi. Seakan bertanya. Hanya sedetik. Dilanjutkannya mengecap minuman terenak di dunianya itu.
"Siapa? Umi?" setelah meletakkan cangkir kosong di meja. Digeser duduknya menghadap sang istri. Tatapannya tajam seolah menelisik ke dalam hati umi Hanin. Mencari kabar apa yang dibawa.
"Itu...," menengokkan wajah ke kamar Hanin. Mengedipkan mata. Berharap abi mengerti siapa yang dimaksud.
"Umi mau whastapp gurunya," jelas umi. Menghadap hp dan sibuk menekan huruf-huruf. Serius. Menunggu. Ditatapnya hp yang tak kunjung berbunyi.
"Masih repot Mi gurunya. Besok saja langsung temui. Lebih jelas. Sekalian lihat sendiri bagaimana Hanin di sekolah." saran abi,  melihat istrinya tak berkedip dari hp.
"Mbak Hanin,  main ke rumah mbak Rina. Assalamualaikum... " menyalami abi dan uminya sambil berlari.
"Eeh...," umi berdiri mengejar Hanin,  tapi yang dikejar sudah tak terlihat.
"Hehehe... biarin lah Mi. Biar kenal tetangga," terkekeh lagi. Sementara umi manyun. Gemes.

#30DWCjilid5
#Day9

Dwi Restanti
19.12
19/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar