Bidadari-bidadari Surga

Posting Komentar

Umi...," kedua tangan Hanin terbuka. Mendekat lalu memeluk uminya. Kecupan mendarat di kedua pipi umi. Bidadari kecil itu datang juga. Selama dua hari dirawat di rumah sakit,  pagi ini dia datang. Memberi kejutan. Umi tahu,  Hanin paling anti kalau diajak ke rumah sakit. Pemahaman yang salah pernah meracuni otaknya, rumah sakit tempatnya orang sakit. Apa yang salah? Bukankah benar? Salah. Menurut Hanin yang datang ke rumah sakit hanya orang yang sakit, yang menjenguk juga akan sakit. Makanya dia tak pernah mau kalau diajak ke rumah sakit,  sekalipun sekedar menjenguk.

"Eh... Mbak Hanin! Sini naik kesini," umi menyambut hangat pelukan Hanin. Ditunjukknya kursi dekat ranjangnya agar anak sulungbya yang cantik berkerudung itu mau duduk di dekatnya. Hanin mendekat, tapi tak mau duduk.
"Umi sudah sembuh?" menyelidik dari ujung kepala sampai kaki seakan memeriksa, meyakinkan bahwa uminya baik-baik saja. Melihat tak ada luka dan darah di tubuh umi,  ia tersenyum. Matanya semakin berbinar. Yakin uminya telah sembuh.
"Sudah, nanti pukul 12 siang sudah boleh pulang," disentilnya hidung Hanin. Tersenyum bersama. Abi yang bersandar di ranjang sebelah, ikut tersenyum. Hatinya terasa tersiram air pegunungan yang sejuk. Menyegarkan. Membuat kembali semangat. Bidadari-bidadarinya telah kembali ceria.

"Hore...alhamdulillah Mi," bersorak lalu keluar kamar. Melihat-lihat taman di halaman. Menemukan kolam yang dipenuhi ikan, menjukurkan tangannya ke air. Lompatan ikan-ikan membuat tertawanya lepas.

"Alhamdulillah... melihat Umi sehat,  Hanin juga senang lho Mi," abi mengusap kerudung umi.
"Iya, Bi. Umi juga senang melihat Hanin tertaea seperti itu. Tadinya umi kawatir dengan dia. Bisa tidak ia menerima kalau adiknya meninggal," memandang ke arah Hanin yang asyik berkecipak dengan ikan.
"Hanin, melihat Umi dan Abi tersenyim,  senang,  dia juga akan ikut,  Mi. Jafi kita harus kuat. Kejadian kemarin kita ambil hikmahnya" menggenggam jemari istrinya dengan lembut.
"Iya,  Bi. Allah tentu memberi ujian sesuai kemampuan. Kita ikuti skenarionya Allah," membalas dengan genggaman yang lembut.

Abi merasa 'plong' bidadari-bidadari surganya sudah kembali ceria. Kembali menyinari hidupnya.
"Terima kasih ya Allah,  aku yakin rencanaMu pasti lebih indah" memejamkan mata dan menarik nafas kelegaan.

#30DWCjilid5
#Day14

Dwi Restanti
17.04
24/4/17

Restanti
Restanti
Hi perkenalkan saya Restanti, seorang ibu yang ingin jadi guru utama bagi anak-anak, freelance Content Writer, dan juga blogger nubi. Segala yang berkaitan dengan profesionalitas sila tulis surel ke dwirestanti@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar